Renungan Keempat: Perbanyak Istighfar dan Syukur
Akhir ibadah, termasuk puasa, hendaknya diakhiri dengan banyak istighfar: mohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa.
Umar bin Abdul Aziz menulis kepada rakyatnya agar menutup Ramadan dengan istighfar dan sedekah, seperti ucapan para nabi:
- Nabi Adam: “رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِن لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ”
- Nabi Ibrahim: “وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ”
- Nabi Musa: “رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي”
- Nabi Yunus: “لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ”
Syukur juga penting, bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan hati, perkataan, dan perbuatan, serta tidak kembali kepada maksiat setelah Ramadan.
“…وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ” (QS. Al-Baqarah: 185)
“…agar kamu menyempurnakan [puasa] dan bertakbir atas petunjuk-Mu, dan agar kamu bersyukur.”
Renungan Kelima: Apakah Puasa dan Shalat Kita Diterima?
Orang-orang yang beruntung di Ramadan berpuasa di siang hari, shalat di malam hari, menangis karena khusyuk, berzikir, beristighfar, dan memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik. Namun, hati mereka tetap waspada: apakah amal diterima Allah?
“وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتُوا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ” (QS. Al-Mu’minun: 60)
“Dan mereka menunaikan apa yang mereka tunaikan, sementara hati mereka merasa takut karena mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”
Ali bin Abi Talib berkata: “Perhatikan penerimaan amal lebih dari amal itu sendiri.”
“إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ” (QS. Al-Ma’idah: 27)
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”
Renungan Keenam: Waspadalah Terhadap Kesombongan dan Tetap Rendah Hati
Setelah Ramadan, hindari kesombongan: merasa memiliki banyak pahala atau dosa telah diampuni hingga kembali seperti bayi yang baru lahir.
Jangan menganggap diri lebih baik karena amal Ramadan.
“وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ” (QS. Al-Muddathir: 6)
“Dan janganlah kamu memberi [karunia] dengan harapan mendapat banyak, tetapi bersikaplah rendah hati kepada Allah.”
“…وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ” (QS. Az-Zumar: 47)
“…dan diberikan kepadanya dari Allah apa yang tidak diduganya.”
Hindari kemusyrikan hati: riya, sombong, dan sifat tercela lainnya.
Penutup:
Ya Allah, segala puji bagi-Mu karena Engkau telah memberi kami kesempatan bertemu Ramadan. Terimalah puasa dan shalat kami, sempurnakan penutupan kami dengan baik, perbaiki kesedihan kami karena berpisah dengan bulan-Mu, jadikan Ramadan berikutnya sebagai saksi kebaikan kami, bebaskan kami dari api neraka, dan jadikan kami termasuk orang yang diterima dan beruntung.
Ya Allah, terimalah amal kami, ampunilah dosa kami, dan catat kami sebagai hamba-Mu yang shaleh pada Hari Pembalasan.

