﴿وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا﴾
(QS. Al-Furqān: 63)

Artinya:
“Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menyakitkan), mereka mengucapkan kata-kata yang baik (mengandung keselamatan).”

Tafsir menurut Ibnu Katsir

Menurut Ibnu Katsir:

  • Ayat ini menjelaskan sifat ‘ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih).
  • Jika mereka disakiti, dihina, atau diajak berdebat oleh orang-orang jahil, mereka tidak membalas dengan kebodohan.
  • Kata “سَلَامًا” kandungan maknanya adalah :
    • Ucapan yang baik
    • Jawaban yang lembut
    • Atau berpaling tanpa membalas keburukan
  • Mereka menjaga kehormatan diri dengan tidak turun pada level kebodohan.

 Tafsir menurut As-Sa’di

Menurut Abdurrahman As-Sa’di:

  • “Orang jahil” adalah orang yang:
    • Ucapannya buruk
    • Perbuatannya menyakitkan
  • Sikap hamba Allah:
    • Tidak melayani kebodohan
    • Tidak membalas keburukan dengan keburukan
  • “قَالُوا سَلَامًا” berarti:
    • Ucapan yang selamat dari dosa
    • Perkataan yang menjaga kehormatan
    • Atau meninggalkan mereka dengan cara yang baik

Pelajaran dari Ayat Ini

1. Menahan diri adalah akhlak orang beriman

Tidak semua hinaan harus dibalas. Justru diam atau menjawab dengan baik lebih mulia.

2. Balas keburukan dengan kebaikan

Ini adalah prinsip Islam yang tinggi—tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

3. Menjaga lisan adalah tanda kematangan iman

Ucapan “salam” menunjukkan kontrol diri dan kebijaksanaan dalam berbicara.

4. Tidak semua perdebatan perlu dilayani

Menghindari orang bodoh adalah bentuk kecerdasan, bukan kelemahan.

5. Akhlak mulia adalah ciri hamba Allah

Ayat ini bagian dari sifat ‘ibadurrahman—menunjukkan bahwa akhlak adalah inti keimanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *