Muhasabah Diri Pasca Ramadan
Oleh : Abu Fawwaz Romadhon حفظه الله
Renungan Pertama: Apa yang Kita Dapatkan dari Ramadan?
Saudaraku, kini kita telah mengucapkan selamat tinggal kepada bulan Ramadan yang mulia… dengan siang yang indah dan malam yang harum.
Kita meninggalkan bulan Al-Qur’an, ketakwaan, kesabaran, jihad, rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Lalu, apa yang kita raih dari buah-buahnya yang matang dan naungannya yang teduh?
Apakah kita telah mencapai ketakwaan dan lulus dari sekolah Ramadan dengan predikat orang-orang yang bertakwa?
Apakah kita belajar kesabaran dan ketekunan dalam ketaatan dan menjauhi maksiat?
Apakah kita mendidik diri kita untuk berjihad dalam berbagai bentuknya?
Apakah kita telah menaklukkan hawa nafsu dan keinginan kita?
Atau adakah kebiasaan buruk yang mengalahkan kita?
Banyak pertanyaan… banyak refleksi… yang melintas di hati setiap Muslim yang tulus, yang menilai diri sendiri dengan jujur: Apa yang aku peroleh dari Ramadan?
Sesungguhnya Ramadan adalah sekolah iman, stasiun rohani untuk mengisi diri sepanjang tahun, dan untuk menajamkan semangat sepanjang hidup.
Lalu, siapa yang tidak mengambil pelajaran, tidak berubah, dan tidak memperbaiki diri setelah Ramadan?
Sesungguhnya, Ramadan adalah sekolah perubahan; kita mengubah perilaku, kebiasaan, dan akhlak yang bertentangan dengan syariat Allah:
“إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ”
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Renungan Kedua: Janganlah Menjadi Seperti Wanita yang Memutuskan Benang Tenunnya
Saudaraku yang dicintai Allah,
Bagi yang benar-benar mengambil manfaat dari Ramadan, yang memiliki sifat-sifat orang bertakwa, yang berpuasa dengan benar, shalat malam dengan tulus, dan berjuang menaklukkan diri sendiri: Bersyukurlah kepada Allah, dan mintalah-Nya agar tetap teguh hingga ajal menjemput.
Hati-hati dengan orang yang kembali kepada maksiat dan meninggalkan ibadah setelah Ramadan. Mereka telah menikmati kenikmatan ketaatan dan manisnya munajat, lalu kembali ke neraka dosa.
Betapa buruknya mereka yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadan saja!
Tanda-tanda orang yang memutus janji ibadah banyak:
- Mengabaikan shalat berjamaah setelah Ramadan, walaupun awalnya penuh masjid saat shalat tarawih.
- Terlena dengan lagu, film, berpakaian membuka aurat, pergi ke hiburan dan pergaulan bebas.
- Bersaing ke bioskop, taman hiburan, dan tempat maksiat lainnya.
Ini bukan cara mensyukuri nikmat Ramadan; justru menandakan penolakan atas nikmat itu. Orang yang benar-benar berpuasa bersedih dan takut apakah puasanya diterima Allah, sebagaimana para salaf menangis enam bulan setelah Ramadan untuk memohon diterimanya ibadah mereka.
“وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ”
“Dan apabila Tuhanmu mengumumkan: ‘Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan [nikmat] kepadamu.’” (QS. Ibrahim: 7)
Syukur adalah meninggalkan maksiat. Orang yang bersyukur akan semakin dekat dengan kebaikan dan ketaatan.
Renungan Ketiga: Ibadahlah Kepada Tuhanmu Hingga Datang Kepastian (Mati)
Seorang hamba harus terus beribadah, tetap di jalan Allah, konsisten dalam agama-Nya, dan tidak hanya taat di bulan tertentu atau tempat tertentu. Tuhan Ramadan adalah Tuhan sepanjang bulan dan hari.
“فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَك” (QS. Hud: 112)
“…Maka tetaplah kamu sebagaimana diperintahkan dan siapa yang bertobat bersama kamu…”
“…فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ” (QS. Fussilat: 6)
“…Maka tetaplah kepada-Nya dan mohon ampunlah kepada-Nya…”
Setelah Ramadan, masih ada puasa sunnah: 6 Syawal, Senin-Kamis, Asyura, Arafah, dan lainnya.
Shalat malam dianjurkan setiap malam sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, dan menyehatkan jiwa.

