Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin orang-orang terdahulu dan yang terakhir, yaitu Nabi kita Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk serta sunnah beliau hingga hari kiamat. Ya Allah, kabulkanlah.

Kini, keadaan terbaik di kalangan kaum Muslimin awam adalah mereka yang memiliki bagian harian dari Al-Qur’an, sedangkan yang paling dianggap beragama adalah mereka yang meluangkan waktu untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari qari favoritnya di sela-sela aktivitas atau perjalanan.

Sesungguhnya keterputusan kita—secara perasaan dan amalan—dari manhaj Al-Qur’an telah berdampak sangat serius terhadap berbagai aspek kehidupan kita, padahal di zaman ini kita sangat membutuhkan petunjuk dan bimbingannya.
Hal ini terjadi karena dalam rentang kehidupan kita yang panjang, bertahun-tahun lamanya, kita telah menyia-nyiakan harta karun ini dan lalai darinya. Kita justru sibuk dengan perkataan manusia, baik dari generasi terdahulu maupun yang datang kemudian—ini dalam kondisi terbaik. Bahkan dalam kondisi terburuk, kita lebih tenggelam dalam cerita, film, dan hiburan yang melalaikan.

Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata:
Tidaklah berlalu antara keislaman kami dengan teguran Allah melalui ayat ini:

**﴿أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ﴾
(QS. Al-Hadid: 16)

kecuali hanya empat tahun.

Betapa berbahayanya kondisi umat Islam saat ini—baik secara umum maupun kondisi kita secara khusus—yang bersumber dari ketidaktahuan kita terhadap satu kebutuhan penting, baik dalam urusan agama maupun dunia, yang tanpanya tidak akan ada perbaikan bagi kehidupan kita, yaitu: mentadabburi Al-Qur’an dan mengamalkannya.

Sayangnya, tadabbur Al-Qur’an kini dianggap sebagai ilmu khusus yang hanya dimiliki oleh para ulama dan penuntut ilmu. Padahal, kaum Muslimin secara umum telah melupakan bahwa tadabbur adalah kewajiban agama yang dibebankan kepada setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa memandang tingkat pendidikan, pemahaman, maupun latar belakang mereka. Tadabbur adalah tugas umat, misi masyarakat Islam, dan pekerjaan utama seorang Muslim.

Sungguh mengherankan, kondisi ini terjadi di zaman yang serba mudah, di mana sarana untuk membaca, menghafal, memahami, dan mentadabburi Al-Qur’an sangat melimpah. Namun, kemudahan itu justru tidak menambah semangat bagi yang enggan, dan tidak pula mengurangi kelalaian bagi yang lalai. Padahal seharusnya semua itu menjadi pendorong untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an.

Allah ﷻ telah berfirman sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu:

﴿وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ﴾
(QS. Al-Qamar: 17)

“Dan sungguh, Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

Pada masa turunnya ayat ini, belum ada mushaf yang dicetak rapi, tidak ada aplikasi canggih, tidak ada media siaran. Namun, yang ada adalah hati yang hidup dan dada yang lapang, yang mengetahui kebaikan dan bergegas menuju kepadanya seperti orang lapar menuju makanan, orang sakit menuju obat, dan orang haus menuju air.

Kita telah mengabaikan Al-Qur’an, maka keberkahan dan keutamaannya pun menjauh dari kita. Keutamaan itu hanya dirasakan oleh orang-orang yang dekat dengannya—mereka adalah “keluarga Allah” dan orang-orang pilihan-Nya—yang menjadikan Al-Qur’an sebagai fokus hidup mereka. Maka Allah pun mencukupi kebutuhan dunia dan akhirat mereka.

Allah ﷻ berfirman:

﴿كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
(QS. Shad: 29)

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”

Ya, Al-Qur’an adalah kitab yang penuh berkah, baik pada zatnya maupun dalam kehidupan orang-orang yang mempelajarinya dan mengamalkannya. Ia adalah pedoman lurus untuk meniti jalan yang benar, petunjuk yang jelas, yang tidak meninggalkan satu pun urusan dunia maupun akhirat kecuali telah dijelaskan dengan sempurna.

Namun kita berpaling darinya, sehingga hilanglah peringatan dan nasihat dari diri kita, dan kita pun tidak termasuk dalam golongan “ulul albab” (orang-orang yang berakal).
Padahal, Al-Qur’an hanya akan dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki akal yang sehat dan hati yang hidup.

Allah ﷻ juga berfirman:

﴿أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا﴾
(QS. Muhammad: 24)

“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?”

Maka sudah seharusnya setiap dari kita kembali kepada hatinya, memeriksa apakah ia terkunci atau terbuka, dan segera berusaha memperbaikinya serta menghidupkannya dengan sesuatu yang tidak akan menghidupkan hati selainnya, yaitu Al-Qur’an.

Sesungguhnya Al-Qur’an adalah sahabat sekaligus harta karun. Jika engkau menjadikannya teman, ia akan membukakan bagimu rahasia, makna, kunci-kunci, dan keberkahannya. Namun jika engkau meninggalkannya, maka sejatinya engkau telah meninggalkan dirimu sendiri, dan telah menyia-nyiakan sebab-sebab kebahagiaan hidupmu. Tanpanya, pikiranmu tidak akan lurus, pemahamanmu tidak akan jernih, dan perilakumu tidak akan terarah.

Hubungan dengan “sahabat yang berupa harta karun” ini sangatlah sensitif. Ia tidak menerima sisa waktu, pikiran yang lalai, atau hati yang kosong. Ia hanya menerima dari seseorang yang datang kepadanya dengan sepenuh jiwa dan kesungguhan.

Allah ﷻ berfirman:

﴿مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ﴾
(QS. Al-Anbiya: 2)

“Tidak datang kepada mereka peringatan baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarkannya sambil bermain-main.”

Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata:
“Janganlah kalian membaca Al-Qur’an dengan tergesa-gesa seperti membaca syair, dan jangan pula kalian menyebarkannya seperti menyebarkan kurma yang buruk. Berhentilah pada keajaiban-keajaibannya, dan gerakkanlah hati dengannya, dan janganlah tujuan salah seorang di antara kalian hanya sampai akhir surat.”

(Ad-daqal: kurma yang buruk kualitasnya)


Maka mari kita menjaga Al-Qur’an:
dengan membaca, menghafal, menafsirkan, mentadabburi, mempelajari, dan mengamalkannya.


Ya Allah, ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan berilah kami manfaat dari apa yang telah Engkau ajarkan. Jadikanlah Kitab-Mu dan wahyu yang Engkau turunkan kepada Nabi-Mu sebagai pemberi syafaat bagi kami, bukan sebagai hujjah yang memberatkan kami. Karuniakanlah kepada kami pemahaman, hafalan, dan kemampuan untuk mengamalkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *