Kedudukan tauhid adalah kedudukan yang paling agung, sedangkan syirik adalah perkara yang paling berbahaya dan paling besar dosanya. Ia merupakan dosa terbesar yang tidak akan diampuni. Karena pentingnya tauhid dan bahayanya syirik, maka penjelasan Nabi ﷺ tentang tauhid adalah sejelas-jelasnya penjelasan, dan larangan beliau terhadap syirik adalah larangan yang paling keras. Beliau menjelaskan tauhid, menjaga kemurniannya, serta menerangkan syirik dan menutup segala jalan menuju kepadanya, sebagai bentuk nasihat kepada umat dan kasih sayang kepada hamba.

Di antara nasihat Nabi ﷺ adalah larangan berlebih-lebihan dalam agama, sebagaimana sabdanya:

«إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ»
Artinya: “Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena yang membinasakan orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.”

Beliau juga melarang sikap melampaui batas, sebagaimana dalam hadis:

«هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ» (diulang tiga kali)
Artinya: “Celakalah orang-orang yang melampaui batas.”

Dan beliau melarang umatnya memuji beliau secara berlebihan:

«لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»
Artinya: “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang Nasrani memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.”


Karena perkara kuburan merupakan salah satu pintu terbesar menuju syirik, maka Nabi ﷺ sangat berhati-hati dalam masalah ini. Pada awalnya beliau melarang ziarah kubur untuk menjaga tauhid, kemudian membolehkannya ketika iman telah kuat, seraya bersabda:

«كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، أَلَا فَزُورُوهَا؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ»
Artinya: “Dulu aku melarang kalian ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena itu mengingatkan kepada akhirat.”

Beliau juga bersabda:

«لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ، وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا»
Artinya: “Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadap kepadanya.”

Dan beliau memperingatkan keras agar kuburan tidak dijadikan tempat ibadah:

«لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»
Artinya: “Laknat Allah atas Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”


Termasuk penjagaan beliau terhadap tauhid adalah ketika mendengar ucapan yang mengandung unsur syirik, beliau segera mengingkarinya. Ketika seseorang berkata:

“ما شاء الله وشئت” (Atas kehendak Allah dan kehendakmu), beliau bersabda:

«أَجَعَلْتَنِي لِلَّهِ نِدًّا؟! قُلْ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ»
Artinya: “Apakah engkau menjadikanku sekutu bagi Allah? Katakanlah: atas kehendak Allah saja.”

Dan ketika ada yang mengatakan bahwa Nabi mengetahui perkara gaib, beliau menegaskan:

«لَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ»
Artinya: “Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari kecuali Allah.”


Maka wajib bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari syirik, karena ia adalah dosa terbesar. Allah berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya: “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Dan Allah juga berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Artinya: “Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa: 36)

Serta firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik.” (QS. An-Nisa: 48)


Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa syirik bisa sangat halus dan tersembunyi, sehingga beliau mengajarkan doa perlindungan:

«اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ وَنَحْنُ نَعْلَمُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ»
Artinya: “Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dalam keadaan kami mengetahuinya, dan kami memohon ampun atas apa yang tidak kami ketahui.”


Ketika kita merenungkan semua dalil ini, sungguh sangat disayangkan kondisi sebagian kaum muslimin yang justru terjatuh dalam perkara-perkara syirik: berdoa kepada selain Allah, meminta pertolongan kepada orang yang telah wafat, dan bergantung kepada selain Allah.

Padahal Nabi ﷺ adalah seorang hamba, bukan untuk disembah, melainkan untuk ditaati dan diikuti. Maka kewajiban kita adalah menjaga tauhid, menjauhi segala bentuk syirik, serta berhati-hati dari segala jalan yang dapat menjerumuskan kepadanya.


Semoga Allah menjaga tauhid kita, menjauhkan kita dari syirik, baik yang besar maupun yang kecil, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *