Allah ﷻ telah memerintahkan kita untuk bekerja dan berusaha mencari rezeki yang halal. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ﴾
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya kalian dibangkitkan.”
(QS. Al-Mulk: 15)
Allah juga memerintahkan agar memilih yang baik dan halal dari apa yang ada di bumi. Allah berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ﴾
“Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan beramal salehlah. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Al-Mu’minun: 51)
Harta adalah nikmat yang besar apabila seorang muslim mendapatkannya dengan cara yang baik dan menggunakannya di jalan yang benar. Nabi ﷺ pernah bersabda kepada ‘Amr bin Al-‘Ash رضي الله عنه:
“Wahai ‘Amr, sebaik-baik harta adalah harta yang saleh di tangan orang yang saleh.”
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)
Namun wahai saudara-saudaraku, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas harta dari dua sisi: dari mana kita mendapatkannya dan ke mana kita membelanjakannya. Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang tubuhnya untuk apa digunakan, tentang ilmunya apa yang telah diamalkan, dan tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan.”
(HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)
Wahai kaum muslimin, banyak manusia pada zaman ini meremehkan harta haram. Mereka mengambil harta tanpa peduli halal atau haram. Bahkan sebagian orang menganggap apa saja yang berada di tangannya berarti halal baginya. Mereka memakan harta haram dan memberi makan keluarganya dari yang haram. Nabi ﷺ telah mengabarkan keadaan seperti ini:
“Akan datang suatu zaman kepada manusia, seseorang tidak peduli dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari yang halal atau yang haram.”
(HR. Al-Bukhari)
Bahaya Harta Haram
Harta haram dapat menyeret pelakunya ke dalam neraka. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih pantas baginya.”
(HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, dishahihkan Al-Albani)
Dan Abu Bakar رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga jasad yang tumbuh dari makanan haram.”
(Shahih At-Targhib)
Harta haram juga menjadi penghalang terkabulnya doa. Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik…” kemudian beliau menyebutkan seseorang yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya seraya berkata: ‘Ya Rabb, Ya Rabb,’ sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram, maka bagaimana doanya akan dikabulkan?”
(HR. Muslim)
Selain itu, harta haram menghilangkan keberkahan. Nabi ﷺ bersabda:
“Apabila penjual dan pembeli jujur dan menjelaskan keadaan barang, maka diberkahi jual beli mereka. Namun jika mereka berdusta dan menyembunyikan cacat, maka dihapus keberkahan jual beli mereka.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bentuk-Bentuk Penghasilan Haram
1. Riba
Riba termasuk dosa besar yang sangat berat. Allah ﷻ berfirman:
﴿وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا﴾
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)
Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulisnya, dan kedua saksinya. Beliau bersabda:
“Mereka semuanya sama.”
(HR. Muslim)
Dalam peristiwa Isra’, Nabi ﷺ melihat seseorang berenang di sungai darah dan disuapi batu. Ketika beliau bertanya siapa orang itu, dijawab: “Dia adalah pemakan riba.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
2. Korupsi dan Mengambil Harta Negara
Mengambil sesuatu dari harta negara tanpa hak termasuk ghulul (pengkhianatan). Allah ﷻ berfirman:
﴿وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ﴾
“Barangsiapa berkhianat dalam urusan harta rampasan, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya.”
(QS. Ali ‘Imran: 161)
Nabi ﷺ bersabda:
“Barangsiapa kami tugaskan dalam suatu pekerjaan lalu ia menyembunyikan satu jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah pengkhianatan yang akan ia bawa pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)
3. Penipuan dan Kecurangan
Termasuk penghasilan haram adalah hasil penipuan dan kecurangan dalam jual beli, seperti menyembunyikan cacat barang.
Nabi ﷺ pernah memasukkan tangannya ke tumpukan makanan lalu mendapati bagian bawahnya basah. Beliau bersabda:
“Mengapa tidak engkau letakkan yang basah di atas agar manusia dapat melihatnya? Barangsiapa menipu maka ia bukan dari golonganku.”
(HR. Muslim)
4. Suap Berkedok Hadiah
Hadiah bagi pegawai atau pejabat karena jabatannya pada hakikatnya adalah suap.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang seorang petugas zakat yang menerima hadiah:
“Mengapa tidak ia duduk saja di rumah ayah dan ibunya lalu melihat apakah ia akan diberi hadiah atau tidak?”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Umar bin Abdul Aziz رحمه الله berkata:
“Dahulu hadiah di zaman Rasulullah ﷺ benar-benar hadiah, sedangkan pada hari ini ia menjadi suap.”
Hadiah semacam ini merusak amanah dan hati manusia, membuat seseorang membela yang salah dan mengabaikan keadilan.
5. Memakan Harta Orang Lain dengan Batil
Seperti mengambil utang lalu tidak mau membayar, mengingkari hak orang lain, atau menunda pembayaran padahal mampu.
Nabi ﷺ bersabda:
“Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpah palsu, maka Allah wajibkan baginya neraka dan haramkan surga baginya.”
Lalu seseorang bertanya: “Walaupun hanya sedikit wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Walaupun hanya sebatang kayu siwak.”
(HR. Muslim)
Allah ﷻ berfirman:
﴿وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ﴾
“Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Ketakwaan Salaf terhadap Harta Haram
Para salaf sangat takut terhadap harta haram, bahkan terhadap perkara syubhat.
Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه pernah memakan sesuatu dari pembantunya. Ketika tahu bahwa makanan itu berasal dari hasil perdukunan di masa jahiliyah, beliau langsung memasukkan jarinya ke tenggorokan hingga memuntahkan semuanya.
Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه pernah meminum susu yang sangat enak. Ketika tahu susu itu berasal dari unta zakat, beliau segera memuntahkannya.
Umar bin Abdul Aziz رحمه الله bahkan menutup hidungnya ketika berada dekat minyak kasturi milik kaum muslimin, karena khawatir menikmati aromanya tanpa hak.
Penutup
Wahai saudaraku, berhati-hatilah dari penghasilan yang haram. Jangan tertipu dengan gemerlap dunia, karena dunia hanyalah kesenangan yang fana. Ketahuilah, siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا﴾
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya.”
(QS. Ath-Thalaq: 2)
Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya engkau tidak meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah, melainkan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”
(HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)
Ketahuilah, sedikit namun halal jauh lebih baik daripada banyak tetapi haram. Jangan tertipu oleh banyaknya harta seseorang, karena banyaknya harta bukan tanda ridha Allah.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah memperbaiki keadaan kita, mencukupi kita dengan rezeki yang halal sehingga tidak membutuhkan yang haram, dan memberikan keberkahan dalam setiap harta yang Dia anugerahkan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.
