Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba’du:
Taubat dan istighfar adalah dua amalan yang saling berkaitan, namun keduanya memiliki makna yang berbeda.
Pertama: Taubat
Taubat mencakup tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan, yaitu:
- Menyesali dosa yang telah dilakukan pada masa lalu.
- Meninggalkan dan menghentikan perbuatan dosa pada saat ini.
- Bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa yang akan datang.
Dengan demikian, taubat bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi merupakan perubahan sikap dan komitmen yang nyata untuk kembali menaati Allah.
Kedua: Istighfar
Istighfar berarti memohon ampunan kepada Allah.
Makna asal kata maghfirah (ampunan) adalah menutupi. Maksudnya, seorang hamba memohon kepada Allah agar:
- Allah menutupi aib dan dosanya, sehingga ia tidak dipermalukan di hadapan manusia maupun pada Hari Kiamat.
- Allah melindunginya dari akibat buruk dosa tersebut, sehingga ia tidak dihukum atau disiksa karenanya.
Oleh sebab itu, ampunan Allah kepada seorang hamba mengandung dua makna:
- Menutupi dosa dan aibnya, sehingga tidak dibongkar dan dipermalukan.
- Melindunginya dari konsekuensi dosa, sehingga ia tidak disiksa atau dimintai pertanggungjawaban atas dosa tersebut setelah Allah mengampuninya.
Perbedaan antara Taubat dan Istighfar
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa taubat dan istighfar memiliki perbedaan.
Seseorang bisa saja beristighfar tetapi belum benar-benar bertaubat, sebagaimana yang sering terjadi pada banyak orang. Mereka mengucapkan “Astaghfirullah” dengan lisan, namun masih terus melakukan dosa yang sama tanpa penyesalan dan tanpa niat untuk meninggalkannya.
Adapun taubat yang benar sudah mencakup istighfar, karena orang yang bertaubat pasti memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya, disertai penyesalan, meninggalkan maksiat, dan tekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Dengan demikian, setiap taubat mengandung istighfar, tetapi tidak setiap istighfar menunjukkan adanya taubat yang sesungguhnya. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya tidak hanya memperbanyak ucapan istighfar, tetapi juga mewujudkannya dengan taubat yang tulus (taubatan nasūḥā), sehingga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima taubatnya.
