Sesungguhnya perjalanan manusia dalam kehidupan ini pasti melewati empat tahapan yang tidak dapat dihindari.
Tahap pertama adalah ketika berada di dalam rahim ibunya. Kemudian ia berpindah ke dunia, yaitu negeri ujian dan cobaan. Setelah itu ia memasuki alam kubur, lalu berpindah menuju kehidupan yang terakhir, yaitu surga atau neraka.
Perpindahan dari dunia menuju akhirat tidak akan terjadi kecuali melalui kematian. Kematian adalah pintu yang pasti dimasuki oleh setiap manusia. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:
“Kematian adalah sebuah pintu, dan setiap manusia pasti akan memasukinya.”
Apabila kita memperhatikan keadaan manusia pada masa kini, kita akan melihat begitu banyak orang yang lalai mengingat kematian. Bahkan sebagian mereka merasa tidak senang apabila diingatkan tentang kematian. Penyebabnya adalah karena hati telah dipenuhi kecintaan kepada dunia, terlalu sibuk mengejar kenikmatannya, serta lalai mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Padahal Rasulullah ﷺ telah memerintahkan umatnya agar sering mengingat kematian. Beliau bersabda:
«أكثروا ذكر هاذم اللذات»
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).”
(HR. At-Tirmidzi)
Namun, banyak orang memandang kematian hanya sebagai pemutus hubungan dengan dunia, kenikmatannya, keluarga, anak-anak, dan seluruh kesenangannya. Pandangan seperti ini hanya melahirkan kesedihan dan tidak mendorong seseorang untuk beramal saleh. Bahkan sebaliknya, ia semakin melekat kepada dunia.
Padahal yang dimaksud syariat dengan mengingat kematian bukanlah agar seseorang mengasingkan diri dari kehidupan, bukan pula agar ia berputus asa dari rahmat Allah atau menyerahkan dirinya kepada bisikan-bisikan setan. Semua itu adalah sikap yang tercela.
Yang benar adalah hendaknya seorang Muslim mengingat kematian sebagai pemutus kesempatan untuk beramal saleh. Dengan cara pandang inilah seseorang akan terdorong memperbanyak amal kebaikan, memanfaatkan sisa umurnya untuk menyiapkan bekal sebelum kesempatan itu benar-benar berakhir.
Buah dan Manfaat Mengingat Kematian
Mengingat kematian memiliki banyak manfaat yang agung, di antaranya:
1. Mendorong untuk Berlomba dalam Kebaikan
Orang yang selalu mengingat kematian akan bersegera melakukan amal-amal saleh dan bersungguh-sungguh dalam menaati Allah.
Sebaliknya, orang yang lalai dari mengingat kematian sering kali malas melakukan kebaikan. Bahkan terhadap shalat, yang merupakan rukun Islam terbesar setelah dua kalimat syahadat, ia mengerjakannya dengan berat hati, terkadang tertidur hingga meninggalkannya, atau enggan menghadiri shalat berjamaah.
2. Mempercepat Taubat
Orang yang selalu mengingat kematian akan segera bertaubat kepada Allah dan tidak terus-menerus bergelimang dalam maksiat.
Ia takut apabila kematian datang ketika dirinya masih membawa dosa yang belum ditaubati. Berbeda dengan orang yang lalai; ia terus-menerus melakukan kemaksiatan tanpa pernah serius memikirkan taubat.
3. Menumbuhkan Qana’ah dan Ridha
Mengingat kematian juga melahirkan sifat qana’ah dan ridha terhadap ketentuan Allah.
Orang yang mengingat kematian akan merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan. Jika diberi nikmat, ia bersyukur. Jika kehidupannya sempit, ia bersabar. Sebab ia yakin bahwa kehidupan yang sesungguhnya bukanlah kehidupan dunia, tetapi kehidupan setelah kematian.
Kematian Pasti Datang
Wahai hamba-hamba Allah,
Betapapun panjang umur seseorang, pada akhirnya ia pasti akan meninggal dunia.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ﴾
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah kalian akan diberikan balasan dengan sempurna.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Allah juga berfirman:
﴿قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ﴾
“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, maka sungguh ia pasti akan menemui kalian.”
(QS. Al-Jumu’ah: 8)
Dan Allah menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu melarikan diri darinya:
﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ﴾
“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapatkan kalian, sekalipun kalian berada di dalam benteng-benteng yang kokoh.”
(QS. An-Nisa’: 78)
Allah juga menetapkan bahwa setiap umat memiliki ajal yang telah ditentukan.
﴿وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ﴾
“Setiap umat memiliki ajal. Apabila ajal mereka telah tiba, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.”
(QS. Al-A’raf: 34)
Seandainya ada seorang manusia yang dapat selamat dari kematian, tentu Nabi Muhammad ﷺ-lah orangnya. Akan tetapi Allah tetap berfirman kepada beliau:
﴿إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ﴾
“Sesungguhnya engkau akan mati, dan mereka pun akan mati.”
(QS. Az-Zumar: 30)
Dalam hadis hasan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Jibril berkata kepada Nabi ﷺ:
“Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau pasti akan mati. Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, karena engkau pasti akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesukamu, karena engkau akan dibalas atas semua perbuatanmu. Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada shalat malamnya, dan kehormatannya adalah ketika ia tidak bergantung kepada manusia.”
Saat Kematian Tiba
Ketika seseorang tidur—yang merupakan saudara kandung kematian—dan terlebih lagi ketika sakaratul maut datang, semua hakikat akan tampak nyata. Perkara gaib berubah menjadi kenyataan yang disaksikan.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ﴾
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu selalu engkau hindari.”
(QS. Qaf: 19)
Allah juga memperingatkan agar harta dan anak-anak tidak melalaikan kita dari mengingat-Nya.
﴿لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ﴾
“Janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.”
(QS. Al-Munafiqun: 9)
Kemudian Allah memerintahkan agar kita menginfakkan sebagian rezeki sebelum kematian datang.
﴿وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا﴾
“Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian. Lalu ia berkata, ‘Ya Rabbku, sekiranya Engkau menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi termasuk orang-orang yang saleh.’ Padahal Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan seseorang apabila ajalnya telah tiba.”
(QS. Al-Munafiqun: 10–11)
Penutup
Karena itu, marilah kita bersungguh-sungguh dalam memperbanyak amal saleh dan segera bertaubat kepada Allah. Dunia ini adalah ladang untuk akhirat. Tidak seorang pun mengetahui kapan dan di mana kematian akan menjemputnya. Bisa jadi ia datang ketika seseorang sedang mengendarai mobilnya, berada di tengah keluarganya, pada waktu siang ataupun malam.
Oleh sebab itu, hendaknya setiap Muslim senantiasa mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabbnya, memperbaiki amalnya, memperbanyak bekal ketakwaan, dan menjadikan mengingat kematian sebagai pendorong untuk semakin dekat kepada Allah, bukan sebagai sebab keputusasaan.
