Pertanyaan:

Dapat kita perhatikan adanya sikap lemah semangat dan rasa jenuh dalam menuntut ilmu. Lantas, apa saja sarana dan metode yang dapat mendorong seseorang untuk memiliki semangat yang tinggi serta kesungguhan dalam mencari dan mempelajari ilmu?

Jawaban

Segala puji bagi Allah, serta shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba‘du:

Lemahnya semangat dalam menuntut ilmu syar‘i merupakan salah satu musibah yang besar. Ada beberapa perkara penting yang perlu diperhatikan:

Pertama: Ikhlas kepada Allah عز وجل dalam menuntut ilmu

Seseorang hendaknya senantiasa meluruskan niatnya karena Allah عز وجل. Apabila seseorang benar-benar ikhlas dalam menuntut ilmu dan menyadari bahwa ia akan mendapatkan pahala atas usaha tersebut, serta bahwa kedudukannya dapat termasuk dalam tingkatan ketiga dari golongan orang-orang yang memperoleh kenikmatan Allah, maka semangatnya akan semakin tumbuh dan menguat.

Allah تعالى berfirman:

﴿ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا ﴾

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.”

(QS. An-Nisa’: 69)

Dengan demikian, seorang penuntut ilmu harus menyadari bahwa setiap langkahnya dalam menuntut ilmu merupakan ibadah, selama ia melakukannya dengan niat yang benar. Kesadaran ini akan menjadi pendorong kuat untuk terus belajar meskipun menghadapi kesulitan dan kejenuhan.

Kedua: Bersahabat dengan orang-orang yang mendorong kepada ilmu

Hendaknya seorang penuntut ilmu senantiasa bergaul dan dekat dengan teman-teman yang dapat memotivasinya untuk menuntut ilmu, membantu dalam berdiskusi, bertukar pemikiran, melakukan penelitian, dan membahas berbagai persoalan ilmiah.

Janganlah ia merasa bosan untuk terus bersama mereka selama persahabatan tersebut membantunya dalam memperoleh dan mengembangkan ilmu.

Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh yang besar terhadap semangat seseorang. Teman yang rajin akan mendorong kita untuk rajin, sedangkan teman yang malas dapat menyeret kita kepada kemalasan.

Karena itu, memilih teman dalam perjalanan menuntut ilmu bukan perkara yang sepele.

Ketiga: Melatih dan memaksa diri untuk bersabar dalam menuntut ilmu

Maksudnya adalah seseorang harus menahan dan melatih dirinya apabila ia ingin meninggalkan aktivitas belajar atau mengikuti keinginan hawa nafsunya.

Allah تعالى berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:

﴿ وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ﴾

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.”

(QS. Al-Kahf: 28)

Maka hendaknya seorang penuntut ilmu melatih dirinya untuk bersabar dan konsisten.

Apabila ia mampu bersabar dan membiasakan diri untuk terus belajar, maka menuntut ilmu akan berubah menjadi kebiasaan yang melekat dalam dirinya. Bahkan, suatu hari ketika ia tidak belajar atau tidak membaca, ia akan merasakan bahwa hari tersebut terasa begitu panjang dan kosong.

Sebaliknya, apabila seseorang selalu memberikan kebebasan kepada dirinya untuk mengikuti rasa malas dan keengganan, maka ia akan sulit mencapai ketekunan dalam menuntut ilmu.

Sebab, jiwa manusia cenderung mengajak kepada keburukan, sementara setan senantiasa mendorong seseorang kepada kemalasan dan menjauhkannya dari aktivitas belajar.

Karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya tidak selalu menunggu munculnya semangat. Ia perlu mendisiplinkan dirinya untuk tetap belajar hingga belajar menjadi kebiasaan dan kebutuhan bagi dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *