Di antara perkara paling menakjubkan yang memperlihatkan perbedaan antara orang yang disibukkan oleh urusan dunia dan orang yang menjadikan akhirat sebagai perhatiannya adalah hadis Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ؛ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ؛ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ»

“Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utama yang menyibukkan pikirannya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu terbayang di hadapan matanya, dan ia tidak akan memperoleh bagian dunia selain apa yang telah ditetapkan baginya. Sebaliknya, barang siapa menjadikan akhirat sebagai niat dan tujuannya, Allah akan menyatukan urusannya, menjadikan kekayaan di dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (HR. Ibnu Majah).

Orang yang menjadikan dunia sebagai perhatian utamanya akan mendapatkan dua hukuman yang disegerakan.

Pertama: Allah mencerai-beraikan urusannya.

Maksudnya, pikirannya bercabang ke berbagai urusan dunia karena begitu kuat keinginannya untuk mendapatkannya. Ia bersusah payah dalam mengumpulkan harta, terus-menerus memikirkannya, dan merasa takut kehilangan apa yang dimilikinya. Hingga akhirnya, ia dilanda kebingungan dan kegelisahan. Ia tidak pernah merasa tenteram dengan apa yang telah dimilikinya, bahkan justru menderita karenanya.

Kedua: Allah menjadikan kemiskinan selalu terbayang di hadapan matanya.

Ia terus dihantui ketakutan akan kemiskinan, sekalipun telah memiliki separuh kekayaan dunia. Tidak ada sesuatu pun yang membuatnya merasa cukup karena hatinya miskin. Padahal, kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati.

Hatinya yang miskin membuatnya terus-menerus mengejar dunia hingga ajal menjemput, tanpa sempat menikmati apa yang telah dikumpulkannya dengan ketenangan. Kelak, ia pun akan dimintai pertanggungjawaban atas harta tersebut. Meskipun menderita karena urusan dunia, ia tetap tidak akan memperoleh bagian darinya selain apa yang telah ditetapkan untuknya.

Adapun orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, ia akan mendapatkan tiga kebaikan yang disegerakan.

Pertama: Allah menyatukan urusannya.

Hal itu karena arah dan tujuan hidupnya jelas, yaitu meraih kebahagiaan akhirat. Oleh karena itu, ia beramal dengan amalan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengharapkan akhirat dan merasa cukup dengan dunia sekadar yang dapat membantunya mencapai akhirat.

Kedua: Allah menjadikan kekayaan di dalam hatinya.

Ia merasa rida dengan bagian dunia yang telah Allah tetapkan untuknya. Ia menikmati apa yang dimilikinya, tidak bersedih atas kenikmatan dunia yang luput darinya, tidak tertipu oleh gemerlap perhiasannya, dan tidak berkecil hati ketika melihat orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi serta kekayaan melimpah.

Ketiga: Dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.

Ketika ia tidak terus-menerus mengejar dunia dengan penuh kerakusan, dunia justru datang kepadanya meskipun ia tidak begitu menginginkannya. Hal itu merupakan bentuk kemuliaan yang Allah Ta‘ala berikan kepadanya, sehingga ia memperoleh rezeki dengan usaha dan kerja yang lebih sedikit.

Nabi kita Muhammad ﷺ benar-benar memahami hakikat dunia. Dunia bukanlah tujuan utama yang menyibukkan pikiran beliau, bukan pula misi utama hidup beliau. Sebaliknya, seluruh kehidupan beliau dicurahkan untuk beramal demi akhirat. Beliau merasa cukup dengan sedikit bagian dunia dan memberikan pilihan kepada istri-istri beliau agar mereka tidak dibebani dengan sesuatu yang mungkin tidak sanggup mereka jalani.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Ketika Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk memberikan pilihan kepada istri-istri beliau, beliau memulainya dariku. Beliau bersabda, ‘Aku akan menyampaikan kepadamu suatu perkara. Tidak mengapa jika engkau tidak segera mengambil keputusan sampai engkau meminta pertimbangan kedua orang tuamu.’

Aisyah berkata, ‘Beliau telah mengetahui bahwa kedua orang tuaku tidak akan menyuruhku berpisah dari beliau.’

Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah عز وجل berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ۝ وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا ﴾ [الأحزاب: 28–29]

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut‘ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Namun, jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu.’” (QS. Al-Ahzab: 28–29).

Aisyah berkata, ‘Apakah dalam urusan seperti ini aku perlu meminta pertimbangan kedua orang tuaku? Sungguh, aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.’

Aisyah kemudian berkata, ‘Setelah itu, istri-istri Rasulullah ﷺ yang lain juga melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan.’”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengamalkan ilmu yang telah Engkau ajarkan. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *