Pertanyaan:
Apakah orang yang mati terbunuh bisa menampakkan diri kepada manusia di tempat ia dibunuh, sebagaimana yang sering diceritakan oleh sebagian orang tua?
Jawaban
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba‘du:
Keyakinan bahwa orang yang mati terbunuh dapat menampakkan diri kepada manusia di tempat ia dibunuh adalah keyakinan yang batil dan termasuk kepercayaan masyarakat jahiliah.
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (5707) dan Muslim (2220) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ»
“Tidak ada penularan (yang bekerja dengan sendirinya tanpa takdir Allah), tidak ada tathayyur (anggapan sial karena pertanda tertentu), tidak ada hāmah, dan tidak ada shafar.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:
“Az-Zubair bin Bakkar menyebutkan dalam Al-Muwaffaqiyyāt bahwa orang-orang Arab pada masa jahiliah meyakini: apabila seseorang terbunuh dan pembunuhnya belum dibalas (qishash), maka dari kepalanya keluar sesuatu yang disebut hāmah, yaitu seekor ulat. Ulat itu berputar-putar di sekitar kuburnya sambil berkata, ‘Berilah aku minum, berilah aku minum.’ Jika pembunuhnya telah dibalas, maka ia pergi; jika tidak, ia tetap ada.
Karena keyakinan itu, salah seorang penyair mereka berkata:
‘Wahai ‘Amr, jika engkau tidak berhenti mencela dan merendahkanku, niscaya aku akan memukulmu hingga hāmah itu berkata: Berilah aku minum!’
Orang-orang Yahudi juga mengklaim bahwa hāmah itu berputar di sekitar kuburnya selama tujuh hari, kemudian pergi.
Ibnu Faris dan para ahli bahasa lainnya menyebutkan penjelasan yang serupa, hanya saja mereka tidak memastikan bahwa hāmah itu berupa ulat. Al-Qazzaz berkata: ‘Hāmah adalah seekor burung malam,’ yang tampaknya dimaksud adalah burung hantu.
Ibnul A‘rabi berkata: ‘Mereka menganggap burung itu sebagai pertanda sial. Jika ia hinggap di rumah seseorang, mereka berkata: Burung itu memberitahukan kematianku atau kematian salah seorang penghuni rumahku.’
Abu Ubaid berkata: ‘Mereka mengira bahwa tulang-belulang orang mati berubah menjadi hāmah lalu terbang, dan burung itu mereka sebut ash-shadā. Berdasarkan penafsiran ini, makna hadis adalah: tidak ada kehidupan bagi hāmah orang mati. Sedangkan menurut penafsiran pertama, maknanya adalah: tidak ada kesialan pada burung hantu dan sejenisnya.’”
(Fathul Bari, 10/241)
Adapun orang yang meninggal dunia, baik karena dibunuh maupun sebab lainnya, maka ruhnya telah berpisah dari jasadnya dan kembali kepada Rabbnya. Jika ia termasuk orang beriman, ruhnya akan mendapatkan kenikmatan. Jika ia termasuk orang kafir, ruhnya akan mendapatkan azab. Jika ia termasuk pelaku maksiat, maka Allah lebih mengetahui keadaannya.
Ketika hari kiamat tiba, seluruh ruh akan dikembalikan ke jasadnya, manusia akan dibangkitkan dan berdiri menghadap Allah Rabb semesta alam untuk menunggu keputusan-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Ketahuilah bahwa keyakinan para salaf umat ini dan para imamnya adalah bahwa seseorang setelah meninggal berada dalam kenikmatan atau azab. Hal itu menimpa ruh dan jasadnya. Ruh tetap ada setelah berpisah dari jasad, dalam keadaan diberi kenikmatan atau azab. Terkadang ruh berhubungan dengan jasadnya sehingga kenikmatan atau azab itu juga mengenai jasadnya. Kemudian pada hari kiamat besar, ruh-ruh akan dikembalikan kepada jasadnya, dan mereka akan bangkit dari kuburnya untuk menghadap Rabb semesta alam.”
(Majmū‘ Al-Fatāwā, 4/284)
Karena itu, apabila ada seseorang yang merasa melihat orang yang terbunuh muncul di tempat ia dibunuh, maka hal itu termasuk tipu daya setan. Setan dapat menampakkan diri dalam rupa orang yang telah meninggal lalu mengaku sebagai dirinya, dengan tujuan menyesatkan manusia dalam urusan agama mereka.
Bahkan terkadang setan memberitahukan bahwa pembunuhnya adalah si Fulan, lalu orang yang melihatnya menyampaikan hal itu kepada keluarga korban. Akibatnya timbul fitnah di tengah masyarakat, terjadi permusuhan, pertumpahan darah, dan kerusakan di muka bumi.
Kesimpulannya: orang yang telah meninggal, baik karena dibunuh maupun sebab lainnya, tidak kembali ke dunia dan tidak menampakkan diri kepada manusia. Keyakinan semacam itu adalah warisan kepercayaan jahiliah. Jika ada penampakan yang dikira sebagai orang yang telah meninggal, maka itu adalah tipu daya setan, bukan ruh orang yang telah wafat.
