Definisi Takdir

Secara bahasa, al-qadar (القدر) dan at-taqdīr (التقدير) memiliki makna yang sama. Seseorang mengatakan, qadartu asy-syai’a qadran wa taqdīran, apabila ia telah merencanakan sesuatu dalam pikirannya sebelum mewujudkannya, serta mengetahui secara menyeluruh ukuran dan batasan yang kelak akan dimiliki oleh sesuatu tersebut.

Adapun secara istilah, takdir yang wajib diimani adalah ilmu Allah Ta‘ala dan pengetahuan-Nya yang azali serta meliputi segala sesuatu, mengenai ukuran dan keadaan segala sesuatu sebagaimana kelak akan terjadi. Hal itu mencakup permulaan dan akhirnya, kekuatan dan kelemahannya, kebaikan dan keburukannya, waktu dan tempat terjadinya, sebab-sebab yang mendahuluinya, serta dampak yang mengikutinya. Dengan demikian, ketika sesuatu diwujudkan, keberadaannya berlangsung sesuai dengan ilmu Allah tersebut.

Kewajiban Beriman kepada Takdir

Beriman kepada takdir merupakan rukun iman yang keenam dari enam rukun iman. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis Jibril:

«الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»

“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir, baik dan buruknya.”

Berdasarkan definisi di atas, makna beriman kepada takdir adalah meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi, meskipun sebesar zarah, di langit maupun di bumi, baik yang lebih kecil maupun yang lebih besar daripada itu, melainkan semuanya sesuai dengan apa yang telah tercakup dalam ilmu Allah dan telah ditetapkan dalam kitab-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

﴿ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا ﴾

“Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (QS. al-Furqan: 2)

Allah juga berfirman:

﴿ إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ ﴾

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. al-Qamar: 49)

Allah عز وجل juga berfirman:

﴿ مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ﴾

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula yang menimpa diri kalian, melainkan telah tertulis dalam sebuah Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid: 22)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»

“Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” Perawi berkata, “Dan ketika itu, Arasy-Nya berada di atas air.”

Dengan demikian, beriman kepada takdir merupakan salah satu pokok keimanan dan bagian mendasar dari akidah seorang muslim. Oleh karena itu, setiap muslim wajib berpegang teguh kepadanya dan senantiasa menjaga keimanannya terhadap takdir Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *