Ia adalah seorang da’i yang bergerak ke segala penjuru, mahir berdakwah dalam berbagai keadaan. Jika ia berada di rumahnya, maka ia menjadi kepala keluarga dan pendidik yang baik. Jika ia turun ke jalan dan bergaul dengan manusia, ia meliputi mereka dengan dakwahnya. Jika ia menaiki kendaraan, keberkahan dakwahnya tersebar kepada orang-orang di sekitarnya. Jika ia memasuki suatu instansi, ia tidak keluar darinya kecuali membawa “keuntungan dakwah”: nasihat yang ia sampaikan secara pribadi kepada seorang pegawai, atau peringatan yang ia sampaikan kepada seorang wanita, atau kata-kata kebaikan yang ia ingatkan kepada orang yang berdiri bersamanya. Ia adalah sosok yang diberkahi dalam keadaan tinggal maupun bepergian, seperti hujan yang di mana pun ia turun, pasti memberi manfaat.
Hatinya penuh keimanan, akalnya terus berusaha, tekadnya kuat, dan imannya tampak nyata. Ia bertakwa, bersih, mulia, dengan dahi yang bercahaya. Kemuliaan agamanya menjulang tinggi. Manfaatnya meluas dan kebaikannya merata. Petunjuknya berakar di setiap tempat yang ia singgahi, dan tanamannya tumbuh subur bahkan di tanah yang tandus. Gelombang nasihatnya mengalir seperti banjir besar yang menghancurkan setiap penghalang di hati orang-orang lalai. Jika ia berbicara, ia didengar; jika ia menasihati, ia menyentuh hati. Langkahnya mantap dan tindakannya sigap. Jika menghadapi rintangan, ia menatapnya dengan tegas dan berkata: “Wahai kesulitan, datanglah atau tidak sama sekali.” Akhlaknya seperti Nabi Muhammad, imannya seperti Abu Bakar, ketegasannya seperti Umar, rasa malunya seperti Utsman, keteguhannya seperti Ali, tangisnya seperti الفضيل، kepemimpinannya seperti Ahmad bin Hanbal, dan keteguhannya seperti Ibnu Taimiyah.
Ia adalah da’i yang tidak terhalang oleh rintangan apa pun dalam menjalankan dakwah di mana saja ia berada. Jika ia dihalangi dari berdakwah, seakan-akan ikan dikeluarkan dari air atau manusia ditempatkan di padang pasir. Ia aktif seperti semut dan lebah, tidak mengenal diam.
Ia adalah da’i yang fasih, pikirannya siap, kecerdasannya cepat seperti kilat, dan lisannya tidak pernah berhenti dari amar ma’ruf nahi munkar serta mengajak kepada kebaikan. Selain itu, ia selalu berdzikir, bersyukur, atau diam dengan penuh kesabaran.
Penampilannya selaras dengan tugasnya yang mulia: berpakaian rapi dan sederhana, berpenampilan baik tanpa dibuat-buat. Siapa pun yang melihatnya akan teringat kepada Allah.
Ia adalah da’i yang menjauh dari hal-hal remeh. Ia tidak merasa hina melakukan kebaikan meskipun dianggap sepele oleh orang lain. Ia tidak enggan menyingkirkan gangguan dari jalan. Ia memberi salam kepada yang dikenal maupun tidak dikenal, tersenyum kepada semua orang, dan menjaga kehormatannya dari orang-orang yang sembrono dan usil.
Ia selalu siap berdakwah di segala medan. Jika diperiksa tasnya, akan ditemukan permen, buku kecil, dan hadiah sederhana. Ia membawa rekaman Al-Qur’an dan ceramah para ulama sebagai bekal dakwahnya.
Ia menggunakan hadiah untuk mendekatkan diri, dan buku kecil untuk mengajak, menasihati, dan membimbing, disertai undangan menghadiri kajian atau khutbah.
Jika ia mengucapkan salam, seakan-akan terdengar alunan indah yang menyenangkan telinga. Wajahnya yang ceria dan salamnya yang penuh kehangatan mengingatkan orang kepada Allah.
Hati manusia terpikat oleh da’i ini, hati-hati orang beriman saling terikat dan bersatu. Air mata takut kepada Allah pun mengalir. Ketika ia menebarkan kata-kata cinta karena Allah, dan Allah menghendaki hidayah, maka hawa nafsu pun tumbang, dan syahwat runtuh di hadapan derasnya iman dan takwa. Seakan-akan setan meratap: “Celaka aku! Dia telah direbut dariku oleh orang saleh ini!”
Beberapa sifat dan tugas da’i lapangan secara ringkas:
- Da’i yang ikhlas, selalu membersihkan niat sebelum beramal, tidak menghindar dari dakwah karena takut riya, tetapi belajar dan terus memperbaiki diri dengan penuh keyakinan kepada pertolongan Allah.
- Tidak pelit tenaga dan usaha dalam berdakwah; seluruh hidupnya diabdikan untuk dakwah.
- Memperhatikan penampilan karena berpengaruh pada orang lain: rapi, sopan, berbicara dengan baik, dan berakhlak mulia.
- Siap dalam setiap keadaan, memiliki berbagai metode untuk menyentuh hati manusia.
- Bersungguh-sungguh membantu orang lain agar menjadi lebih baik dan selamat dari keburukan.
- Aktif mencari peluang dakwah, tidak menunggu kesempatan datang.
- Fokus pada masalah penting umat, tidak sibuk dengan hal remeh, sabar terhadap gangguan, dan terus berjalan menuju tujuan.
- Memanfaatkan semua sarana yang ada, bahkan jika hanya dengan lisan atau isyarat.
- Bekerja dengan serius dan diam, lebih mengutamakan amal daripada banyak bicara, tidak sombong dan tidak pamer.
Sebagai penutup, disebutkan perkataan salah seorang salaf:
“Tidaklah seseorang mengaku-aku (berlebih-lebihan) kecuali karena kosong dari hakikat. Jika ia benar-benar memiliki hakikat itu, maka kenyataan itu sendiri akan berbicara tanpa perlu pengakuan.”
