Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sebelum kita mulai membacanya dan menjelaskan makna-maknanya, aku ingin mengingatkan tentang dua prinsip dalam ilmu yang akan melahirkan dua prinsip dalam amal.

Ilmu adalah Kehidupan

Prinsip pertama adalah bahwa ilmu merupakan kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjadikan ilmu sebagai sebab hidupnya hati. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ﴾

“Apakah orang yang tadinya mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dengan cahaya itu ia berjalan di tengah manusia, sama seperti orang yang berada dalam gelap gulita yang tidak dapat keluar darinya?”
(QS. Al-An‘am: 122)

Ini adalah perumpamaan bagi seorang mukmin yang diberi cahaya oleh Allah sehingga ia keluar dari gelapnya kekafiran, kebodohan, dan kesesatan.

Seorang hamba tidak akan memperoleh cahaya kecuali dengan cahaya ilmu. Sebab untuk mengetahui apa yang wajib atas dirinya, ia memerlukan ilmu. Dengan ilmu itulah Nabi ﷺ diutus. Karena itu, ilmu adalah kehidupan bagi hati.

Karena agungnya pengaruh ilmu, Nabi ﷺ tidak diperintahkan untuk meminta tambahan dari sesuatu yang bermanfaat kecuali tambahan ilmu. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا ﴾

“Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
(QS. Thaha: 114)

Permintaan Nabi ﷺ kepada Rabbnya untuk ditambah dalam ilmu menunjukkan bahwa semakin bertambah ilmu seorang hamba, semakin hidup pula hatinya. Yang dimaksud ilmu di sini tentu adalah ilmu wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Maka hendaknya tertanam kuat dalam hati kita bahwa:
Ilmu adalah kehidupan.


Kehidupan Harus Dipenuhi dengan Ilmu

Prinsip kedua adalah bahwa kehidupan ini seharusnya dipenuhi dengan ilmu. Tidak ada kebahagiaan dan ketenangan hidup kecuali bila seseorang menyibukkan dirinya dengan ilmu.

Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:

﴿ فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ﴾

“Maka berpegang teguhlah kepada wahyu yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya engkau berada di atas jalan yang lurus.”
(QS. Az-Zukhruf: 43)

Allah memerintahkan Nabi ﷺ agar seluruh hidup beliau dipenuhi dengan perkara yang dicintai dan diridhai Allah. Dan tidak ada jalan agar seorang hamba istiqamah di atas ketaatan kecuali dengan ilmu.

Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿ وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ ﴾

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).”
(QS. Al-Hijr: 99)

Seorang hamba tidak mungkin terus istiqamah beribadah hingga wafat kecuali bila ia terus bersama sesuatu yang paling bermanfaat baginya, yaitu ilmu.


Dua Prinsip Amal

Jika seseorang memahami dua prinsip ilmu tadi, maka hendaknya lahir darinya dua prinsip amal.

1. Meneguhkan Diri di Atas Jalan Ilmu

Jika telah tertanam dalam hati bahwa ilmu adalah kehidupan dan kehidupan harus dipenuhi ilmu, maka wajib baginya meneguhkan diri di atas jalan itu. Sebab itulah jalan keselamatan dunia dan akhirat.

Ayat terbesar tentang keteguhan adalah firman Allah Ta‘ala:

﴿ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ﴾

“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”
(QS. Ibrahim: 27)

Dalam ayat ini terdapat empat perkara tentang keteguhan:

  1. Yang meneguhkan → Allah.
  2. Orang yang diteguhkan → orang-orang beriman.
  3. Sarana keteguhan → ucapan yang teguh (kebenaran).
  4. Tempat keteguhan → dunia dan akhirat.

Keteguhan tidak diraih dengan kekuatan, harta, kedudukan, nasab, ataupun gelar. Keteguhan hanya datang dari Allah سبحانه وتعالى.

Dan kuat atau lemahnya keteguhan seseorang bergantung pada kuat atau lemahnya iman. Semakin besar imannya, semakin kuat pula istiqamahnya.

Adapun “ucapan yang teguh” adalah kebenaran yang tidak berubah dan tidak goyah. Yang menunjukkan manusia kepada kebenaran itu adalah ilmu. Barangsiapa mengenal kebenaran di dunia melalui ilmu, maka Allah akan meneguhkannya di akhirat.


2. Memiliki Sahabat yang Membantu dalam Ilmu

Seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki sahabat-sahabat yang membantunya dalam menuntut ilmu dan saling menguatkan di atasnya. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ﴾

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)

Sebesar-besar bentuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan adalah saling membantu dalam menuntut ilmu.

Nabi ﷺ bersabda:

« الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا »

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Lalu Nabi ﷺ menyela-nyelakan jari-jemarinya.

Karena itu hendaknya seseorang memilih sahabat yang berpegang teguh kepada sunnah, semangat dalam kebaikan, dan bersungguh-sungguh dalam ilmu.

Nabi ﷺ juga bersabda:

« الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ »

“Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekat.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Inilah empat prinsip agung:

  • Dua prinsip dalam ilmu.
  • Dua prinsip dalam amal.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang hidup dengan ilmu, istiqamah di atasnya, dan dikumpulkan bersama para pencari ilmu yang ikhlas di dunia maupun akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *