Segala puji hanya milik Allah semata. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi yang tidak ada nabi setelahnya. Amma ba‘du:

Di antara karunia Allah Ta‘ala kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia menjadikan bagi mereka musim-musim ketaatan, agar mereka memperbanyak amal saleh dan berlomba-lomba dalam hal yang mendekatkan diri kepada Rabb mereka. Orang yang berbahagia adalah orang yang mampu memanfaatkan musim-musim kebaikan itu, dan tidak membiarkannya berlalu begitu saja tanpa makna.

Di antara musim penuh keutamaan itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Hari-hari ini telah dipersaksikan oleh Rasulullah ﷺ sebagai hari-hari terbaik di dunia. Beliau mendorong umatnya untuk memperbanyak amal saleh di dalamnya. Bahkan Allah Ta‘ala sendiri bersumpah dengannya, dan itu saja sudah cukup menunjukkan kemuliaan dan keagungannya, karena Dzat Yang Maha Agung tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴾
“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)

Ibnu ‘Abbas dan banyak ulama salaf menjelaskan bahwa yang dimaksud “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ»
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟
قَالَ:
«وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ»

Artinya:

“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”
Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.”
(HR. Sahih al-Bukhari)

Karena itu, seorang hamba hendaknya bersungguh-sungguh memanfaatkan hari-hari tersebut, memperbanyak amal saleh, serta menyambutnya dengan sebaik-baiknya.

Dengan Apa Kita Menyambut Sepuluh Hari Dzulhijjah?

1. Taubat yang Tulus

Seorang muslim hendaknya menyambut musim ketaatan dengan taubat yang jujur dan tekad kuat untuk kembali kepada Allah. Sebab, dalam taubat terdapat keberuntungan dunia dan akhirat.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.”
(QS. An-Nur: 31)

2. Tekad Kuat untuk Memanfaatkan Hari-Hari Ini

Seorang muslim hendaknya benar-benar bersemangat menghidupkan hari-hari ini dengan amal dan ucapan yang saleh. Barang siapa bersungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka Allah akan menolong dan memudahkan jalannya.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴾
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

3. Menjauhi Maksiat

Sebagaimana ketaatan menjadi sebab dekat kepada Allah, maka maksiat adalah sebab jauhnya seorang hamba dari Allah dan terhalangnya dari rahmat-Nya. Terkadang seseorang terhalang dari rahmat Allah hanya karena dosa yang ia lakukan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ»

Artinya:

“Sesungguhnya seorang hamba bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang ia lakukan.”
(HR. Sunan Ibn Majah)

Jika engkau menginginkan ampunan dosa dan keselamatan dari api neraka, maka berhati-hatilah dari maksiat pada hari-hari ini dan juga pada hari-hari lainnya.

Maka wahai saudaraku muslim, bersungguh-sungguhlah memanfaatkan hari-hari mulia ini. Sambutlah ia dengan sebaik-baiknya sebelum ia berlalu, lalu engkau menyesal ketika penyesalan sudah tidak lagi berguna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *