Jawaban:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du:

Sejumlah ulama telah menyatakan bahwa penghafal Al-Qur’an yang senantiasa membacanya secara rutin tidak akan terkena pikun (khuraf). Pendapat ini didasarkan pada beberapa atsar (riwayat dari salaf) yang menjelaskan hal tersebut, serta pengamatan terhadap keadaan banyak manusia.

Imam Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

“Barang siapa membaca Al-Qur’an, maka ia tidak akan dikembalikan kepada usia yang paling hina (pikun).”

Kemudian beliau membaca firman Allah:

﴿ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا﴾

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman.” (QS. At-Tin: 5–6)

Lalu beliau berkata:

“Maksudnya adalah orang-orang yang membaca Al-Qur’an.”

Riwayat ini dinilai sahih oleh Al-Hakim dan juga disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1435.

Imam As-Suddi رحمه الله menafsirkan istilah “ardzalil ‘umur” (usia yang paling hina) dalam ayat tersebut dengan kepikunan (الخرف), sebagaimana dinukil oleh Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al-Mantsur.

Imam As-Suyuthi رحمه الله juga menyebutkan beberapa atsar:

  • Dari Ikrimah رحمه الله, beliau berkata: “Barang siapa membaca Al-Qur’an, maka ia tidak akan dikembalikan kepada usia yang paling hina (pikun).”Kemudian beliau membaca ayat:﴿لِكَيْلَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا﴾“Agar setelah mempunyai ilmu, dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun.” (QS. An-Nahl: 70)
  • Dari Thawus رحمه الله, beliau berkata: “Orang yang berilmu tidak akan pikun.”
  • Dari Abdul Malik bin ‘Umair رحمه الله, beliau berkata: “Dahulu dikatakan bahwa manusia yang paling awet akalnya adalah para pembaca Al-Qur’an.”

(Ad-Durr Al-Mantsur, 5/146)

Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi رحمه الله berkata:

“Telah masyhur dan tersebar luas di kalangan masyarakat umum maupun khusus bahwa penghafal Kitabullah yang terus-menerus membacanya tidak akan terkena pikun dan tidak mengalami gangguan akal.”

“Kami sendiri pernah menyaksikan Syaikh para qari di Madinah, yaitu Syaikh Hasan Asy-Sya’ir. Ketika tulisan ini ditulis, beliau masih hidup dan usianya telah jauh melewati seratus tahun. Namun beliau tetap mengajarkan Al-Qur’an kepada murid-muridnya, mengajarkan qira’at yang sepuluh, bahkan mampu mendengarkan beberapa orang membaca pada tempat yang berbeda secara bersamaan dan tetap dapat mengoreksi semuanya dengan tepat.”

(Adhwa’ul Bayan, 9/8)

Kesimpulan

Maka diharapkan dan diharapkan besar bagi seorang penghafal Al-Qur’an yang senantiasa menjaga hafalan dan rutin membacanya, bahwa Allah akan menjaganya dari kepikunan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk Ahlul Qur’an, yaitu orang-orang yang senantiasa membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Wallahu a‘lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *