Jawaban:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba’du:
Pertama
Sebagian orang yang mempromosikan praktik ini mengklaim bahwa ketika bulan sedang purnama, siapa saja yang memiliki keinginan atau harapan hendaknya menuliskannya pada selembar kertas dengan tata cara tertentu yang tidak boleh dilanggar. Kemudian kertas itu diletakkan di jendela rumah atau di balkon. Mereka juga mensyaratkan agar tidak menuliskan angka, nama asli dirinya, ataupun nama orang-orang yang didoakan dalam kertas tersebut.
Mereka menganggap bahwa bulan purnama memiliki pengaruh dalam terwujudnya harapan-harapan karena energi yang dipancarkannya.
Keyakinan semacam ini berasal dari apa yang disebut sebagai “ilmu energi”. Padahal hakikatnya, ajaran tersebut bersumber dari keyakinan-keyakinan pagan Hindu dan Buddha. Banyak anak muda dan orang yang mengaku berwawasan luas terpengaruh olehnya, padahal mereka tidak memiliki dasar ilmu syariat yang memadai. Bahkan para ahli psikologi sendiri banyak yang menolak klaim-klaim ilmu energi dan manfaat pengaruhnya, serta menganggapnya tidak lebih dari menjual ilusi dan harapan kosong.
Kedua: Hukum syariatnya
Jika dicermati, gagasan menulis harapan saat bulan purnama mengandung keyakinan bahwa ada waktu-waktu dan sebab-sebab tertentu yang memiliki pengaruh khusus, tanpa adanya dalil syar’i maupun bukti nyata yang mendukungnya.
Hal ini bertentangan dengan prinsip dasar akidah Islam.
Keadaan pelakunya tidak lepas dari dua kemungkinan:
Pertama: Ia meyakini bahwa bulan purnama dan cara penulisan harapan itu sendiri yang mewujudkan harapan tersebut.
Jika demikian, maka ini adalah syirik akbar (syirik besar) yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Sebab ia telah menjadikan selain Allah sebagai sekutu dalam mencipta, mengatur, dan memberi pengaruh.
Kedua: Ia meyakini bahwa bulan purnama dan cara penulisan tersebut hanyalah sebab untuk terwujudnya harapan, sedangkan yang mewujudkannya tetap Allah.
Keyakinan seperti ini termasuk syirik ashghar (syirik kecil). Karena siapa saja yang menetapkan suatu sebab tanpa adanya dalil syariat ataupun bukti nyata bahwa hal itu memang sebab yang sah, maka ia telah terjatuh ke dalam syirik kecil.
Nabi ﷺ bersabda:
«أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ»
“Pada pagi hari, ada di antara hamba-hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun yang mengatakan: ‘Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’, maka ia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Sedangkan yang mengatakan: ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu’, maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari no. 810)
Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله menjelaskan bahwa menjadikan sesuatu sebagai sebab padahal Allah tidak menjadikannya sebab, baik melalui syariat maupun kenyataan yang terbukti, termasuk syirik kecil.
Apabila diperhatikan lebih dalam, praktik menulis harapan saat bulan purnama dengan alasan memanfaatkan energi bulan sebenarnya merupakan salah satu bentuk perbintangan (tanjim) yang diharamkan, termasuk amalan jahiliah dan cabang dari kesyirikan.
Selain itu, semua itu hanyalah angan-angan kosong dan ilusi belaka. Pelakunya tidak memperoleh manfaat apa pun, bahkan dapat merusak akidah dan amalnya, serta akhirnya hanya menuai kerugian dan kekecewaan.
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda:
«مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ»
“Barang siapa mempelajari suatu ilmu dari perbintangan, maka sungguh ia telah mempelajari satu cabang dari sihir; semakin bertambah ilmunya tentang itu, semakin bertambah pula bagian sihir yang ia pelajari.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, hadis hasan)
Penyair sahabat, Labid bin Rabi’ah Al-‘Amiri, berkata:
لَعَمْرُكَ ما تَدري الضَّوَارِبُ بالحصَى
وَلا زاجِراتُ الطّيرِ ما اللّهُ صانِعُسَلُوهُنَّ إنْ كَذَّبْتُموني متى الفتى
يَذُوقُ المَنَايا أو متى الغَيثُ واقِعُ
“Demi umurmu, para peramal dengan batu kerikil dan para penafsir gerak burung tidak mengetahui apa yang akan Allah lakukan. Tanyakanlah kepada mereka jika kalian tidak mempercayaiku: kapan seseorang akan menemui ajalnya atau kapan hujan akan turun?”
Orang-orang yang mempercayai praktik semacam ini tidak lepas dari dua keadaan: antara meyakini bahwa ia berpengaruh dengan sendirinya, atau meyakini bahwa ia adalah sebab bagi terwujudnya harapan. Keduanya berada dalam bahaya besar, antara syirik besar dan syirik kecil.
Padahal syirik adalah dosa yang paling besar.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)
Dan ketika Nabi ﷺ ditanya tentang dosa yang paling besar, beliau menjawab:
«أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ»
“Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhari no. 4483)
Ketiga: Bagi yang pernah melakukannya karena belum mengetahui hukumnya
Barang siapa pernah melakukan hal tersebut sebelum mengetahui hukumnya, maka hendaknya ia:
- Bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh.
- Memperbanyak istighfar dan memohon ampunan kepada-Nya.
- Memusnahkan atau membuang kertas-kertas yang berisi harapan-harapan tersebut.
Selain itu, hendaknya ia menempuh sebab-sebab yang benar dan dibenarkan syariat untuk meraih keinginannya, seperti:
- Berdoa kepada Allah dengan penuh harap.
- Bersandar dan bertawakal kepada-Nya.
- Menempuh usaha-usaha nyata dan sebab-sebab yang memang dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan.
Karena seorang muslim mengetahui bahwa segala kebaikan berada di tangan Allah semata. Harapan tidak terwujud karena bulan, bintang, energi, atau ritual tertentu, tetapi terwujud dengan izin Allah, melalui doa, tawakal, dan sebab-sebab yang benar yang Dia syariatkan dan ciptakan.
