Dakwah Islam mendapatkan sambutan yang baik di tengah penduduk Yatsrib, yaitu Aus dan Khazraj. Mereka meyakini bahwa sosok yang datang ini adalah Nabi akhir zaman, berdasarkan sifat-sifat yang sebelumnya telah mereka ketahui dari kaum Yahudi.
Enam orang dari mereka kemudian beriman, dan merekalah yang menjadi salah satu sebab tersebarnya dakwah Islam setelah itu.
Dalam dakwah tauhid dan ajaran yang dibawa Nabi ﷺ, mereka menemukan sesuatu yang dapat menyatukan tekad, menyatukan kembali persatuan mereka yang telah tercerai-berai, serta mengakhiri pertikaian dan kebencian yang selama ini terjadi di antara mereka.
Mereka menemukan pada pribadi Rasulullah ﷺ sosok yang selama ini mereka cari. Maka mereka pun berkumpul di bawah panji beliau.
Beliau mengajak mereka kepada tauhid yang murni dan melarang mereka menyembah berhala. Beliau mengajarkan kepada mereka iman kepada para rasul Allah dan kitab-kitab yang diturunkan-Nya, kepada para malaikat yang dekat dengan Allah, serta iman kepada kebangkitan dan pembalasan.
Beliau juga mengajak mereka kepada kemuliaan akhlak, serta meninggalkan berbagai perbuatan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tercela.
Hal ini merupakan perwujudan dari firman Allah Ta‘ala dalam Surah Al-Jumu‘ah:
﴿ هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ﴾
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. Al-Jumu‘ah: 2)
Demikianlah Islam mulai tersebar di Madinah.
Ketika kaum Quraisy mendengar tentang keislaman kaum Anshar dan baiat mereka kepada Rasulullah ﷺ, mereka pun sangat gelisah dan ketakutan. Mereka melihat perkembangan tersebut sebagai sebuah ancaman terhadap kepentingan mereka. Mereka khawatir kekuasaan mereka akan lenyap, pengaruh mereka akan runtuh, dan perdagangan mereka menuju Syam akan mengalami kerugian besar.
Ketika Nabi ﷺ dan sahabat beliau رضي الله عنه tiba di Madinah, kaum Anshar memberikan pertolongan dan dukungan kepada beliau. Rasulullah ﷺ kemudian mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin.
Peristiwa tersebut menjadi titik perubahan yang sangat penting. Dakwah Islam memperoleh kekuatan dan dorongan yang besar, semakin dikenal dan tersebar, serta mendapatkan banyak orang yang membantu dan memberikan dukungan.
Islam Menyatukan Hati
Kecintaan terhadap agama baru ini pun tumbuh di dalam hati orang-orang yang beriman.
Islam mengajarkan mereka keadilan dan ihsan, serta melarang mereka dari kezaliman dan permusuhan. Islam mempersatukan hati yang sebelumnya telah dipisahkan oleh kehidupan jahiliah, dan menyatukan mereka setelah sebelumnya fanatisme kesukuan telah memecah belah mereka.
Nabi mereka memerintahkan mereka untuk menyebarkan salam, karena salam merupakan simbol kasih sayang dan kecintaan.
Beliau juga memerintahkan mereka untuk memberikan makanan, karena hal itu merupakan wujud kepedulian, kerja sama, dan kasih sayang.
Beliau juga menganjurkan mereka untuk melaksanakan salat malam ketika manusia sedang terlelap dalam tidur, yaitu ibadah orang-orang yang kembali kepada Allah dan mengabdikan diri kepada-Nya dengan penuh ketundukan.
Kesaksian Abdullah bin Salam رضي الله عنه
Dari Abdullah bin Salam رضي الله عنه, beliau berkata:
“Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, orang-orang berbondong-bondong menyambut beliau. Mereka berkata, ‘Rasulullah ﷺ telah datang!’
Aku pun datang bersama orang-orang untuk melihat wajah beliau. Ketika aku melihat wajahnya, aku mengetahui bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta.
Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah sabdanya:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَأَفْشُوا السَّلَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ»
“Wahai sekalian manusia! Berilah makan, tebarkanlah salam, sambunglah silaturahmi, dan salatlah ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh keselamatan.”
📚 Dalā’il an-Nubuwwah, 2/401; Riyādhus Shālihīn, Bab Keutamaan Qiyamullail.
