Apakah kisah Nabi Dzul Kifl (‘alaihis salam)? Apakah beliau sama dengan “Al-Kifl” yang disebutkan dalam hadis? Bagaimana status sanad hadis tersebut? Apakah makam yang dinisbatkan kepadanya di Irak memiliki kaitan dengannya?
Jawaban
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du:
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Anbiya’: 85)
Dan Allah berfirman:
“Dan ingatlah Ismail, Alyasa‘, dan Dzulkifli. Dan semuanya termasuk orang-orang pilihan.”
(QS. Shad: 48)
Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang Dzul Kifl: apakah beliau seorang nabi atau hanya seorang laki-laki saleh. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat, dan pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Dzul Kifl adalah seorang nabi, karena Allah menyebutnya bersama para nabi lainnya.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Yang tampak dari penyebutannya dalam Al-Qur’an yang agung dengan pujian, serta digandengkan bersama para nabi yang mulia ini, adalah bahwa beliau seorang nabi yang mendapatkan shalawat dan salam dari Rabbnya. Inilah pendapat yang masyhur.
Sebagian ulama lain berpendapat bahwa beliau bukan nabi, melainkan seorang laki-laki saleh, hakim yang adil dan lurus. Adapun Ibnu Jarir Ath-Thabari tidak memastikan salah satu pendapat tersebut. Wallahu a‘lam.”
(Al-Bidayah wan Nihayah, 1/516)
Abu Hayyan Al-Andalusi rahimahullah berkata:
“Mayoritas ulama berpendapat bahwa beliau adalah seorang nabi.”
(Al-Bahr Al-Muhith, 7/460)
Al-Qasimi rahimahullah berkata:
“Firman Allah: ‘Dan ingatlah Ismail, Alyasa‘, dan Dzulkifli. Dan semuanya termasuk orang-orang pilihan’, maksudnya: mereka adalah orang-orang pilihan dalam kenabian dan kerasulan untuk memberikan petunjuk dan melakukan perbaikan.”
(Tafsir Al-Qasimi, 8/267)
As-Sa‘di rahimahullah berkata:
“Yakni, sebutlah para nabi tersebut dengan sebaik-baik penyebutan dan pujilah mereka dengan pujian yang terbaik. Masing-masing dari mereka termasuk orang-orang pilihan yang Allah pilih dari seluruh makhluk-Nya, dan Allah pilihkan bagi mereka keadaan yang paling sempurna berupa amal, akhlak, sifat-sifat terpuji, dan karakter yang lurus.”
(Tafsir As-Sa‘di, hlm. 715)
Apa yang diketahui tentang Dzul Kifl?
Yang disebutkan tentang Dzul Kifl dalam Al-Qur’an hanyalah bahwa beliau termasuk orang-orang yang sabar dan orang-orang pilihan.
Selain itu, kita tidak mengetahui kisah yang sahih tentang beliau. Tidak ada cerita rinci yang shahih mengenai kehidupannya. Adapun kisah-kisah yang sering disebutkan oleh sebagian ahli sejarah dan mufassir, kebanyakannya berasal dari riwayat Ahlul Kitab (Israiliyyat), sehingga hakikat kebenarannya hanya Allah yang mengetahuinya.
Hadis tentang “Al-Kifl” dari Bani Israil
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2496) dan Ahmad (4747) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dahulu ada seorang bernama Al-Kifl dari Bani Israil yang tidak pernah menjauhi dosa apa pun yang ingin ia lakukan.
Suatu ketika datang seorang wanita kepadanya. Ia memberinya enam puluh dinar agar wanita itu mau berzina dengannya.
Ketika ia telah duduk sebagaimana seorang lelaki duduk terhadap istrinya, wanita itu gemetar dan menangis.
Ia bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis? Apakah aku memaksamu?’
Wanita itu menjawab, ‘Tidak. Akan tetapi ini adalah perbuatan yang belum pernah kulakukan sama sekali. Tidak ada yang mendorongku melakukannya selain kebutuhan yang sangat mendesak.’
Maka Al-Kifl berkata, ‘Engkau melakukan ini padahal belum pernah melakukannya sebelumnya?’
Lalu ia berkata, ‘Pergilah, uang itu menjadi milikmu.’
Kemudian ia berkata, ‘Demi Allah, setelah ini aku tidak akan bermaksiat kepada Allah selamanya.’
Pada malam itu juga ia meninggal dunia.
Keesokan harinya tertulis di pintu rumahnya:
“Sesungguhnya Allah telah mengampuni Al-Kifl.””
Namun hadis ini dhaif (lemah). Para pentahqiq Musnad Ahmad menilainya lemah, demikian pula Syaikh Al-Albani dalam Dha‘if At-Tirmidzi.
Apakah Al-Kifl dalam hadis ini adalah Dzul Kifl yang disebut dalam Al-Qur’an?
Andaikata hadis tersebut sahih sekalipun, para ulama menjelaskan bahwa Al-Kifl dalam hadis itu bukanlah Dzul Kifl yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Adapun hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad ini, maka ia merupakan hadis yang sangat ganjil dan sanadnya masih perlu diteliti.
Kalaupun hadis itu terjaga (sahih), maka tokoh yang disebut di dalamnya bukanlah Dzul Kifl.
Sebab lafaz hadis hanya menyebut ‘Al-Kifl’ tanpa tambahan ‘Dzu’. Dengan demikian, ia adalah seorang laki-laki lain yang berbeda dengan Dzul Kifl yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Wallahu a‘lam bish-shawab.”
(Al-Bidayah wan Nihayah, 1/519)
Bagaimana dengan makam Dzul Kifl di Irak?
Adapun makam yang dinisbatkan kepada Dzul Kifl di Irak, maka tidak ada dasar yang sahih untuk menetapkan bahwa makam tersebut benar-benar milik Dzul Kifl.
Tidak diketahui adanya riwayat yang sahih maupun keterangan dari para ulama yang dapat dijadikan sandaran untuk memastikan hal itu.
Penisbatan makam-makam seperti ini umumnya berasal dari tradisi masyarakat yang tidak memiliki landasan ilmiah yang kuat. Bahkan sering kali hal tersebut menjadi sebab sebagian orang terfitnah dengan penghuni kubur, lalu menjadikan mereka sebagai perantara kepada Allah, bahkan terkadang sampai berdoa, meminta pertolongan, bernazar, dan melakukan bentuk-bentuk ibadah kepada mereka selain kepada Allah.
Kesimpulan:
- Dzul Kifl disebut dalam Al-Qur’an sebagai orang yang sabar dan termasuk orang-orang pilihan.
- Pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa beliau adalah seorang nabi.
- Tidak ada kisah rinci yang sahih tentang kehidupan beliau.
- Hadis tentang “Al-Kifl” dari Bani Israil berstatus lemah.
- Sekalipun hadis itu sahih, tokoh di dalamnya bukan Dzul Kifl yang disebut dalam Al-Qur’an.
- Makam yang dinisbatkan kepada Dzul Kifl di Irak tidak memiliki dasar yang sahih untuk dipastikan sebagai makam beliau.
Wallahu a‘lam.
