Merayakan Tahun Baru Hijriah dan Hari Asyura dengan Menjadikannya Sebagai Hari Raya

Yang Benar

Perbuatan ini adalah keliru dan tidak dibenarkan dalam syariat, meskipun banyak orang yang melakukannya.


Dalil dan Penjelasannya

A. Hari Raya Termasuk Bagian dari Agama, Tidak Boleh Ditambah-Tambah

Hari raya adalah bagian dari syariat Islam. Karena itu, tidak boleh seseorang menetapkan hari raya baru yang tidak ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.


B. Menetapkan Hari Raya Adalah Hak Allah Semata

Allah Ta’ala berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka suatu agama yang tidak diizinkan Allah?”

(QS. Asy-Syura: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa menetapkan bentuk ibadah dan hari raya dalam agama merupakan hak Allah semata. Tidak seorang pun berhak membuat syariat baru yang tidak ditetapkan-Nya.


C. Nabi ﷺ Mengingkari Kaum Anshar yang Memiliki Hari Raya Buatan Mereka

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟

قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, sementara penduduk Madinah memiliki dua hari yang biasa mereka gunakan untuk bermain dan bersenang-senang. Beliau bertanya:

‘Hari apakah ini?’

Mereka menjawab:

‘Kami biasa bersenang-senang pada kedua hari itu di masa jahiliah.’

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.'”

(HR. Abu Dawud no. 1134, dinyatakan sahih oleh Al-Albani)

Sisi Pendalilan dari Hadis Ini

1. Yang Menggantikan Hari Raya Itu Adalah Allah

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik daripada keduanya.”

Ini menunjukkan bahwa yang berhak menetapkan hari raya hanyalah Allah Ta’ala.


2. Penggantian Menuntut Ditinggalkannya Yang Diganti

Makna “menggantikan” adalah meninggalkan sesuatu yang lama dan mengambil penggantinya.

Karena itu tidak boleh menggabungkan hari raya jahiliah dengan hari raya Islam.

Allah telah menetapkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari raya umat Islam, sehingga tidak boleh menambah hari raya lain dalam agama.


D. Perayaan Tahun Baru Hijriah Menyerupai Perayaan Tahun Baru Masehi

Merayakan malam pergantian Tahun Baru Hijriah dengan berbagai bentuk perayaan termasuk bentuk penyerupaan terhadap tradisi kaum Nasrani yang merayakan Tahun Baru Masehi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى

“Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani.”

(Hadis ini diriwayatkan dengan beberapa lafaz yang maknanya sahih dalam larangan tasyabbuh kepada orang-orang kafir).

Dan beliau ﷺ juga bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.”

(HR. Abu Dawud no. 4031, sahih)


E. Nabi ﷺ Tidak Pernah Merayakannya

Tidak ada satu pun hadis sahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ:

  • Merayakan malam Tahun Baru Hijriah.
  • Mengkhususkan ibadah tertentu pada malam tersebut.
  • Mengadakan perayaan atau acara khusus ketika masuk bulan Muharram.

Padahal Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”

(QS. Al-Ahzab: 21)

Dan para ulama sepakat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ.


F. Para Sahabat dan Generasi Salaf Tidak Pernah Melakukannya

Para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan generasi terbaik umat ini tidak pernah merayakan Tahun Baru Hijriah maupun menjadikan Hari Asyura sebagai hari raya.

Padahal mereka adalah orang yang paling memahami agama dan paling bersemangat mengikuti sunnah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah kesesatan.”

(HR. Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, sahih)


Keterangan Tentang Hari Asyura

Hari Asyura (10 Muharram) memang memiliki keutamaan yang besar, tetapi bukan hari raya.

Yang disyariatkan adalah berpuasa.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ، يَوْمَ عَاشُورَاءَ

“Aku tidak pernah melihat Nabi ﷺ begitu bersungguh-sungguh berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan atas hari-hari lainnya selain hari ini, yaitu hari Asyura.”

(HR. Bukhari no. 2006)

Dan Nabi ﷺ bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya.”

(HR. Muslim no. 1162)

Maka yang dianjurkan adalah berpuasa, bukan mengadakan perayaan.


Kesimpulan

  1. Tahun Baru Hijriah bukan hari raya dalam Islam.
  2. Hari Asyura juga bukan hari raya, tetapi hari yang dianjurkan untuk berpuasa.
  3. Menetapkan perayaan khusus pada malam Tahun Baru Hijriah tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an, Sunnah, maupun amalan para sahabat.
  4. Hari raya yang disyariatkan bagi umat Islam hanyalah:
    • Idul Fitri
    • Idul Adha
    • Hari Jumat sebagai hari raya mingguan.
  5. Seorang muslim hendaknya menghidupkan bulan Muharram dengan:
    • Taubat kepada Allah.
    • Memperbanyak puasa sunnah.
    • Memperbanyak dzikir dan doa.
    • Memperbanyak amal saleh.
  6. Keselamatan berada pada mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dan jalan para sahabat, serta menjauhi perkara-perkara baru dalam agama.

قال عبد الله بن مسعود رضي الله عنه:

اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ

“Ikutilah sunnah dan jangan membuat-buat perkara baru, karena sungguh kalian telah dicukupkan (dengan ajaran yang telah ada).”

(Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunannya)

Wallāhu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *