Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du:
Berkata Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi رحمه الله ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala:
﴿أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي﴾
“Maka apakah kalian menjadikan dia (Iblis) dan keturunannya sebagai pemimpin-pemimpin selain Aku?” (QS. Al-Kahfi: 50)
Beliau berkata:
“Penyebutan kata ‘keturunannya’ (ذريته) dalam ayat yang mulia ini merupakan dalil bahwa setan memiliki keturunan. Maka anggapan bahwa Iblis tidak memiliki keturunan jelas bertentangan dengan ayat ini secara terang-terangan. Setiap pendapat yang bertentangan dengan nash Al-Qur’an yang jelas adalah batil tanpa keraguan.
Adapun bagaimana cara keturunannya itu ada, apakah melalui perkawinan atau cara lainnya, maka tidak ada dalil yang tegas dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang menjelaskannya. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.”
Kemudian beliau menyebutkan riwayat dari Asy-Sya’bi رحمه الله:
“Ada seseorang bertanya kepadaku:
‘Apakah Iblis mempunyai istri?’
Aku menjawab:
‘Itu adalah pesta pernikahan yang tidak aku hadiri.’
Kemudian aku teringat firman Allah:
﴿أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي﴾
Maka aku memahami bahwa tidak mungkin ada keturunan kecuali dari seorang pasangan (istri). Lalu aku berkata:
‘Ya, ia mempunyai istri.’“
Pemahaman Asy-Sya’bi bahwa adanya keturunan mengharuskan adanya istri juga diriwayatkan dari Qatadah رحمه الله.
Kemudian disebutkan beberapa pendapat lain:
Mujahid berkata:
“Cara Iblis menghasilkan keturunan adalah dengan memasukkan kemaluannya ke dalam dirinya sendiri, lalu ia bertelur sebanyak lima butir. Dari telur-telur itulah asal keturunannya.”
Sebagian ulama lainnya mengatakan:
“Allah menciptakan bagi Iblis alat kelamin laki-laki di paha kanannya dan alat kelamin perempuan di paha kirinya. Lalu ia menggauli dirinya sendiri. Setiap hari ia menghasilkan sepuluh telur, dan dari setiap telur keluar tujuh puluh setan laki-laki dan perempuan.”
Lalu Asy-Syinqithi memberikan komentar:
“Jelas bahwa pendapat-pendapat seperti ini dan yang semisalnya tidak dapat dijadikan sandaran, karena tidak didukung oleh dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah.
Yang ditegaskan oleh ayat hanyalah bahwa Iblis mempunyai keturunan. Adapun bagaimana proses lahirnya keturunan tersebut, tidak ada riwayat sahih yang menjelaskannya. Masalah seperti ini tidak mungkin diketahui hanya dengan akal dan pendapat semata.”
Kemudian beliau menukil perkataan Imam Al-Qurthubi رحمه الله dalam tafsirnya:
“Aku berkata: Yang sahih dalam masalah ini adalah apa yang disebutkan oleh Al-Humaidi dalam kitab Al-Jam’u Bainash Shahihain, dari Imam Abu Bakr Al-Barqani, dengan sanadnya dari Abu Muhammad Abdul Ghani bin Sa’id Al-Hafizh, dari riwayat Ashim, dari Abu Utsman, dari Salman رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تَكُنْ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ وَلَا آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا، فَبِهَا بَاضَ الشَّيْطَانُ وَفَرَّخَ»
‘Janganlah engkau menjadi orang pertama yang masuk ke pasar dan jangan pula menjadi orang terakhir yang keluar darinya, karena di sanalah setan bertelur dan berkembang biak.’
Hadis ini menunjukkan bahwa setan mempunyai keturunan yang berasal darinya.”
Namun Asy-Syinqithi kemudian menjelaskan:
“Hadis ini hanya menunjukkan bahwa setan ‘bertelur dan berkembang biak’. Akan tetapi, hadis ini tidak menunjukkan bagaimana hal itu terjadi; apakah melalui betina yang menjadi istrinya atau dengan cara lainnya.
Bahkan makna hadis tersebut masih mengandung kemungkinan lain. Sebab dalam bahasa Arab, ungkapan ‘bertelur dan berkembang biak’ sering digunakan secara kiasan atau perumpamaan.
Bisa jadi maksudnya adalah bahwa setan melakukan berbagai bentuk penyesatan, godaan, dan bisikan di pasar sehingga kejahatannya berkembang pesat di sana. Ini merupakan ungkapan majazi (kiasan), karena peribahasa dan ungkapan kiasan dalam bahasa Arab biasanya tidak diubah lafaznya.”
Kesimpulan
- Al-Qur’an secara tegas menetapkan bahwa Iblis memiliki keturunan, berdasarkan firman Allah: ﴿أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي﴾
“Apakah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai pelindung selain Aku?” (QS. Al-Kahfi: 50) - Bagaimana cara Iblis memiliki keturunan tidak diketahui secara pasti, karena tidak ada dalil sahih yang menjelaskannya.
- Kisah-kisah yang menyebut bahwa Iblis menikah dengan dirinya sendiri, bertelur dengan cara tertentu, atau memiliki organ khusus, tidak memiliki dalil yang sahih, sehingga tidak boleh dipastikan kebenarannya.
- Sikap yang benar adalah beriman kepada apa yang ditegaskan oleh Al-Qur’an, yaitu bahwa Iblis memiliki keturunan, dan tidak membahas lebih jauh hal-hal yang tidak dijelaskan oleh wahyu.
— Dinukil dari Tafsir Adhwa’ul Bayan karya Syaikh Asy-Syinqithi رحمه الله.
