Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du:

Melihat Allah Ta’ala di dunia tidak mungkin terjadi bagi siapa pun, baik dari kalangan orang beriman maupun orang kafir.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih Muslim no. 169 bahwa Nabi ﷺ bersabda ketika memperingatkan manusia tentang Dajjal:

«تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ»

“Ketahuilah, tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya Yang Maha Mulia dan Maha Agung sampai ia meninggal dunia.”

Nabi Musa `alaihis salam pernah meminta kepada Allah agar diperlihatkan diri-Nya, namun Allah tidak mengabulkan permintaan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ﴾

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berbicara kepadanya, dia berkata: ‘Ya Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku. Akan tetapi lihatlah gunung itu, jika ia tetap di tempatnya maka engkau akan dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, Dia menjadikannya hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah sadar, Musa berkata: ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama beriman.'”
(QS. Al-A‘raf: 143)

Karena itu, siapa saja yang mengaku melihat Allah di dunia dengan mata kepalanya, maka secara tidak langsung ia telah mengklaim dirinya lebih utama daripada Nabi Musa `alaihis salam.

Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله

Beliau berkata:

“Telah tetap berdasarkan nash Al-Qur’an bahwa kepada Musa dikatakan:

﴿لَنْ تَرَانِي﴾

‘Engkau tidak akan melihat-Ku.’

Padahal melihat Allah jauh lebih agung daripada diturunkannya sebuah kitab dari langit.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَى أَكْبَرَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً﴾

‘Ahli Kitab meminta kepadamu agar engkau menurunkan sebuah kitab dari langit kepada mereka. Sungguh mereka telah meminta kepada Musa sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu mereka berkata: Tunjukkanlah Allah kepada kami secara nyata.’ (QS. An-Nisa’: 153)

Maka siapa yang mengatakan bahwa ada seseorang dapat melihat Allah (di dunia), berarti ia telah mengklaim dirinya lebih agung daripada Musa bin Imran. Bahkan klaimnya lebih besar daripada klaim orang yang mengaku Allah menurunkan kitab kepadanya dari langit.”

(Majmu’ Al-Fatawa, 2/336)

Beliau juga berkata:

“Setiap orang yang mengaku bahwa ia melihat Rabbnya dengan kedua matanya sebelum meninggal dunia, maka klaimnya batil menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebab mereka seluruhnya sepakat bahwa tidak seorang pun dari kaum mukminin melihat Rabbnya dengan mata kepalanya hingga ia meninggal dunia.”

(Majmu’ Al-Fatawa, 3/389)

Kemudian beliau menjelaskan bahwa perbedaan pendapat yang pernah muncul di kalangan ulama hanyalah mengenai Nabi Muhammad ﷺ, apakah beliau melihat Rabbnya dengan mata kepala ketika peristiwa Mi’raj atau tidak.

Beliau berkata:

“Para imam kaum muslimin telah sepakat bahwa tidak seorang pun dari kaum mukminin melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia. Mereka hanya berbeda pendapat mengenai Nabi ﷺ secara khusus. Namun mayoritas para imam berpendapat bahwa beliau tidak melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia. Pendapat ini didukung oleh atsar-atsar yang sahih dan tetap dari Nabi ﷺ, para sahabat, dan para imam kaum muslimin.”

(Majmu’ Al-Fatawa, 2/335)

Kesimpulan

  1. Tidak seorang pun dapat melihat Allah dengan mata kepala di dunia, baik mukmin maupun kafir.
  2. Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ: “Tidak seorang pun dari kalian akan melihat Rabbnya sampai ia meninggal dunia.”
  3. Nabi Musa `alaihis salam sendiri pernah meminta melihat Allah, namun Allah berfirman: ﴿لَنْ تَرَانِي﴾ (“Engkau tidak akan melihat-Ku.”)
  4. Menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, siapa yang mengaku melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia maka pengakuannya batil.
  5. Kaum mukminin akan melihat Allah kelak di akhirat, sebagai nikmat terbesar bagi penghuni surga, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dan hadis sahih.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *