Apakah Kaum Muslimin Sudah Shalat Sebelum Peristiwa Isra’ Mi’raj? Dan Ibadah Apa Saja yang Mereka Lakukan Sebelum Shalat Lima Waktu Diwajibkan?
Jawaban:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ.
Pertama: Kaum Muslimin Sudah Melaksanakan Shalat Sebelum Isra’ Mi’raj
Para ulama telah bersepakat bahwa shalat lima waktu sebagaimana yang kita kenal sekarang diwajibkan pada malam Isra’ Mi’raj.
Lihat: At-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr (8/35) dan Fathul Bari karya Ibnu Rajab (2/104).
Namun, berbagai dalil menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan para sahabat telah melaksanakan shalat sejak awal kenabian, sebelum diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra’ Mi’raj.
Dalil dari Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha
Imam Muslim meriwayatkan (no. 746) bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mewajibkan qiyamul lail (shalat malam) pada awal turunnya surat ini (Al-Muzzammil). Maka Nabi ﷺ dan para sahabat beliau melaksanakannya selama setahun. Allah menahan penutup surat itu di langit selama dua belas bulan, kemudian Allah menurunkan keringanan pada akhir surat tersebut. Sejak itu qiyamul lail menjadi ibadah sunnah setelah sebelumnya wajib.”
Hadis ini menunjukkan bahwa pada masa awal Islam, kaum Muslimin telah memiliki kewajiban shalat malam sebelum diwajibkannya shalat lima waktu.
Dalil dari Kisah Heraklius
Dalam hadis panjang tentang dialog Heraklius dengan Abu Sufyan, Heraklius bertanya mengenai ajaran Nabi ﷺ:
“Apa yang dia perintahkan kepada kalian?”
Abu Sufyan menjawab:
“Dia berkata: ‘Sembahlah Allah semata dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Tinggalkan apa yang dikatakan nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintahkan kami untuk shalat, zakat, jujur, menjaga kehormatan diri, dan menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari no. 7 dan Muslim no. 1773)
Penjelasan Ibnu Rajab rahimahullah
Beliau berkata:
“Hadis ini menunjukkan bahwa perkara yang paling ditekankan Nabi ﷺ kepada umatnya adalah shalat, sebagaimana beliau memerintahkan mereka untuk jujur dan menjaga kehormatan diri. Hal itu telah terkenal hingga diketahui oleh bangsa-bangsa lain yang berbeda agama dengan beliau. Abu Sufyan ketika mengucapkan hal tersebut masih musyrik, sedangkan Heraklius seorang Nasrani. Sejak awal diutus, Nabi ﷺ telah memerintahkan kejujuran, menjaga kehormatan diri, dan beliau juga telah melaksanakan shalat sebelum diwajibkannya shalat lima waktu.”
(Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 2/101)
Apakah Shalat Sebelum Isra’ Mi’raj Itu Wajib?
Lahiriah hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa shalat pada masa awal Islam memang diwajibkan, walaupun tata cara dan jumlahnya berbeda dengan shalat lima waktu yang kemudian disyariatkan.
Hal ini juga sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al-Muzzammil:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا
“Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah untuk shalat pada malam hari kecuali sedikit.”
(QS. Al-Muzzammil: 1–2)
Keterangan Imam Asy-Syafi’i
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Aku mendengar dari orang yang aku percaya ilmu dan beritanya bahwa Allah menurunkan satu kewajiban shalat, kemudian menghapusnya dengan kewajiban lain, lalu menghapus kewajiban kedua itu dengan kewajiban shalat lima waktu.”
Beliau kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kewajiban qiyamul lail dalam surat Al-Muzzammil, yang kemudian diringankan dengan firman Allah:
فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.”
(Al-Umm, 1/68)
Pendapat Bahwa Awalnya Diwajibkan Dua Shalat
Sebagian ulama berpendapat bahwa sebelum Isra’ Mi’raj, kaum Muslimin diwajibkan:
- Dua rakaat pada waktu pagi.
- Dua rakaat pada waktu petang.
Qatadah rahimahullah berkata:
“Pada awalnya mereka diperintahkan berpuasa tiga hari setiap bulan, serta shalat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari.”
(Tafsir Ath-Thabari, 3/501)
Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
“Bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.”
(QS. Qaf: 39)
Beliau berkata:
“Ini terjadi sebelum diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra’ Mi’raj, dan ayat ini termasuk ayat Makkiyyah.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 3/538)
Meski demikian, sebagian ulama lain tidak menerima rincian dua rakaat pagi dan dua rakaat petang tersebut, walaupun mereka tetap mengakui adanya kewajiban shalat secara umum sebelum Isra’ Mi’raj.
Kedua: Ibadah Apa Saja yang Dilakukan Sebelum Shalat Lima Waktu Diwajibkan?
Hadis Heraklius di atas menunjukkan bahwa selain tauhid dan shalat, kaum Muslimin pada masa awal Islam juga telah diperintahkan beberapa ibadah dan akhlak mulia, yaitu:
- Tauhid (menyembah Allah semata).
- Shalat.
- Zakat atau sedekah.
- Kejujuran.
- Menjaga kehormatan diri (‘iffah).
- Menyambung silaturahmi.
Puasa
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
“Pada awal Islam mereka berpuasa tiga hari setiap bulan, kemudian ketentuan itu dihapus dengan kewajiban puasa Ramadan.”
Beliau menambahkan bahwa sejumlah sahabat dan tabi’in seperti:
- Mu’adz bin Jabal,
- Ibnu Mas’ud,
- Ibnu Abbas,
- Atha’,
- Qatadah,
- Adh-Dhahhak,
berpendapat bahwa puasa tiga hari setiap bulan telah disyariatkan sejak masa-masa awal sebelum diwajibkannya puasa Ramadan.
(Tafsir Ibnu Katsir, 1/497)
Sedekah dan Zakat
Ibnu Katsir juga berkata:
“Tidak jauh kemungkinan bahwa asal kewajiban zakat, yaitu sedekah secara umum, telah diperintahkan sejak awal kenabian.”
Beliau berdalil dengan firman Allah:
وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ
“Tunaikanlah haknya pada hari memetik hasilnya.”
(QS. Al-An’am: 141)
Adapun zakat dengan ketentuan nisab dan kadar yang rinci, baru dijelaskan setelah hijrah di Madinah.
Beliau juga menjelaskan:
“Sebagaimana asal shalat telah diwajibkan pada waktu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya sejak awal kenabian, kemudian pada malam Isra’ Mi’raj—sekitar satu setengah tahun sebelum hijrah—Allah mewajibkan shalat lima waktu kepada Rasul-Nya ﷺ, lalu rincian syarat, rukun, dan hukum-hukumnya dijelaskan sedikit demi sedikit setelah itu.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 7/164)
Kesimpulan
Sebelum Isra’ Mi’raj, kaum Muslimin sudah melaksanakan shalat, meskipun belum berupa shalat lima waktu seperti yang kita kenal sekarang. Di antara bentuk ibadah yang telah diwajibkan saat itu adalah:
- Tauhid dan meninggalkan syirik.
- Shalat (termasuk qiyamul lail yang awalnya wajib).
- Sedekah atau zakat secara umum.
- Puasa tiga hari setiap bulan (menurut banyak ulama).
- Kejujuran.
- Menjaga kehormatan diri.
- Menyambung silaturahmi.
Kemudian pada malam Isra’ Mi’raj, Allah mewajibkan shalat lima waktu, yang menjadi tiang agama dan ibadah terbesar setelah syahadat.
Wallahu a‘lam.
